• Home
  • About Me
  • Menu
    • Music
    • Chit-Chat
    • Potography
facebook twitter instagram Email

Canvas Of Life

maybe this is what you need to find your inner bad ass.. "the solitary prowess of a silent life"


sedikit melenceng dari tema motherhood yang belakangan ini saya tulis sejak menjadi newmom. hehehe beberapa bulan yang lalu saya melihat postingan tiktok dengan caption "when you are not pretty, so you have to study harder, so that at least people appreciate your existense" kalau di translate menjadi : jika kamu tidaklah cantik, kamu harus lebih giat belajar jadi setidaknya orang-orang mengapresiasi keberadaanmu.

hmmm.. sebagai alumni minderan, memang hal ini cukup sulit karena saya juga benar-benar merasakannya dulu, ketika saya merasa jelek bukan karena bernasib jelek. namun, karna penilaian dan perlakuan orang-orang yang membuat saya seperti menjadi berbeda dan tidak bisa join dengan circle toxic mereka. yang pada akhirnya membuat saya menjadi pribadi yang tidak bersyukur dan rendah diri..

but, that's the problem, honey.. dunia ini begitu luas dan kehidupan bermasyarakat bukan sebatas di sekolahan atau di universitas saja. maka dari itu pintar akademik saja juga tidaklah cukup.. apa artinya lulus dengan nilai terbaik, juga nanti di dunia kerja masih tergerus dengan beauty standart. perusahaan dimana-mana pada awalnya lebih mengutamakan punya pegawai yang berpenampilan menarik. bla bla.. belum lagi hidup di masyarakat yang penuh dengan bodyshamming.

Maka... jikalah berusaha disatu bidang tidaklah berhasil, maka gali potensi yang lain. walaupun tidak goodlooking tapi punya potensi2 yang lain.. berkaca dari pengalaman pribadi yang selalu merasa insecure dari dulu.. lama-lama capek harus terus-terusan ngerasa minder, akhirnya bisa menerima diri sendiri.. menjauh dari circle yang penuh body shamming lebih menyehatkan mental dan mendapatkan ketenangan batin. memanglah tidak mudah karena "loving yourself + self acceptance" bukanlah proses instan, dan belajarnya bertahun-tahun supaya bisa menghilangkan rasa baper..  keluar dari lingkungan toxic & carilah tempat dimana yang lebih bisa menghargai keberadaanmu. apa adanya.

barulah akan sadar.. 

you're WORTHY and you're so much more than that..!

dan satu lagi naikin value diri sendiri, bukan karena ingin di puji, bukan karena ingin keberadaannya di akui. tapi untuk menambah kualitas diri. beauty privilige is real tapi pada akhirnya manusia semua akan menua, dan orang akan melihat bukan hanya dari penampian tapi dari kepribadian kita.

saya jadi ingat dengan puisi rupi kaur yang berjudul i want to apologize tentang beauty privilige yang jika di translate berbunyi seperti ini :

“Saya ingin meminta maaf kepada semua wanita yang saya sebut cantik. sebelum saya menyebut mereka cerdas atau berani. saya minta maaf saya membuatnya terdengar seolah-olah sesuatu yang sederhana seperti apa yang kamu miliki sejak lahir. hanya itu yang harus kamu banggakan, ketika kamu telah memecahkan gunung dengan kecerdasanmu. mulai sekarang saya akan mengatakan hal-hal seperti: kamu tangguh, atau kamu luar biasa. bukan karena menurutku kamu cantik tapi karena saya ingin kamu tahu, kamu lebih dari itu” YOU ARE SO MUCH MORE THAN THAT.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

bangun tidur, mencuci piring, membuat teh, menyiapkan sarapan, beres-beres rumah, belanja sayur, masak, menyiapkan makan siang dan makan malam. menonton tv, browing, tidur siang.. serba-serbi kehidupan ibu rumahtangga yang saya jalani.

berbeda sekali dengan kehidupan saya dulu sebelum resign, ingin bangun siang menunggu hari minggu.. ingin tidur siang harus menunggu hari minggu. pikiran tidak pernah lepas dari yang namanya target produksi, kekurangan material yang harus di stock-opname sebelum closing rls, apakah di acc atau tidak, bagaimana cara mengajukan kk tanpa ada keributan, berapa lama terima barang dari vendor. komplenan dari produksi, memikirkan anak buah yang mengeluh, gudang yang selalu berantakan, overtime yang melelahkan. hari minggu yang terasa begitu singkat menjelma menjadi senin yang tiba-tiba di depan mata. 

rasa menungguku sekarang hanya menanti tiap minggu pagi untuk membuka aplikasi kehamilan, sudah berapa minggu usia kandungan saya. ada perkembangan apa janin di dalam perut saya setiap minggunya. menungu suami pulang sebulan (lebih) tiap pulang kampung, baru bisa saya keluar untuk jalan-jalan. 

terasa sepi? iya.

apalagi ketika suami belum pulang, sangat sepi.. kemudian kehidupan saya sekarang banyak di habiskan untuk melihat untuk gadget, scrolling status whatsapp. bagaimana keadaan anak buah saya sekarang pasca di tinggalkan saya sebagai leader? apakah mereka marah, kecewa karena sudah saya tinggalkan? kenapa tidak ada satupun yang menanyakan kabar saya? apakah mereka tidak ada sama sekali pikiran sayang terharap saya dan tidak begitu pentingnya saya dimata mereka sekarang pasca bersama selama 2 tahun? terbesit semua pemikiran negatif.. i just feel so far away from them.. but i know, i’m not perfect either.. but i can’t so easily throw away this guilt. i do love them.

satu dua orang saya coba untuk ajak chatting, yang ternyata tidak seburuk yang saya pikir.. mereka memahami keadaan saya, yang mungkin sudah jalannya seperti ini.. namun yang lainnya entahlah. jujur saya rindu ingin disapa mereka sebagai bentuk kepedulian mereka yang sudah saya temani 1/2tahun.. hanya menanyakan kabar saya saja sudah tak anggap lebih dari cukup. tidak lebih.. i miss them.. :(

mungkin pikiran negatif ini hanya terbesit ketika saya merasa kesepian saja. memang saya sangat butuh self healing dan stressfree namun pasti akan ada selalu kerinduan akan "aktualisasi diri" di lingkungan sosial.. insyaallah ketika anak saya lahir semua kekosongan hati saya pasca meninggalkan keramaian di lingkungan kerja akan terobati.. just waiting my saviour, then..



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

26-08-2021. terbangun dari tidur siang, bermimpi sesuatu yang tak asing. di produksi ada yang salah memakai barang, mereka menjahit dengan warna benang yang salah, mereka memasang komponen yang tidak sesuai dengan style. kemudian saya di panggil ke tkp dihadapan para atasan sambil menunjukan pekerjaan mereka. mereka menerangkan permasaahan dengan nada bicara seperti biasanya. yang seolah-olah menyalahkan saya. tidak becus mengordinasi inventory. saya mencari dimana letak permasalahannya dan membela diri namun saya terbangun.. dehidrasi.. perut kram. merasa kesal. tapi setelah beberapa saat saya bersyukur. merasa bersyukur karena itu semua hanyalah mimpi, dalam kenyataan saya tidak lagi berada di tempat yang kapan saja akan di salahkan, kapan saja merasa terasa terexpose seolah-olah menjadi 'tersangka' oleh kesalahan saya, kesalahan orang lain yang harus saya tanggung, atas kejadian yang bahkan saya tidak ketahui. 

5 Juni 2021 lalu saya menikah, 29 Juni 2021 kesehatan saya drop, demam tinggi 2 hari. 30 Juni 2021 saya divonis positif Covid-19 tidak bisa bekerja 14 hari kemudian karena harus isolasi mandiri. sedih? sudah pasti. sempat merasa lega karena bisa menghindar dari pekerjaan yang stressfull, istirahat memfokuskan kesehatan. namun ternyata tidak mudah, pekerjaan saya malah bertumpuk selama 2 minggu tertinggal. semakin membuat stress dikala sedang isolasi mandiri karena begitu banyak permasalahan yang terjadi, tapi yang hanya bisa lakukan dengan menonton grup, tanpa bisa mengeksekusi. dan semakin kian membuat kecemasan. sempat berfikir ingin resign saja ketika hamil karena kemungkinan saya tidak akan kuat menghadapi permasalahan pekerjaan yang kian rumit. tentu saja itu hanyalah benak saya ketika benar-benar merasa cemas, panik dan helpless dengan mental saya saat berada masa isolasi. terasingkan dengan keluarga, karena saya harus misah tempat tinggal sementara.

7 juli 2021 ternyata positif hamil. kesehatan saya kembali drop. namun, saya sempat bersemangat dan berfikir positif menyambutnya karena kemungkinan pekerjaan saya akan menjadi ringan karena toleransi ibu hamil di lingkungan kerja, tidak pulang sampai malam juga. segala benak ingin resign saat berada masa isolasi mandiri coba saya hilangkan jauh-jauh karena sudah membayangkan kapan cuti kehamilan tiba, kapan saya mulai belaja baju hamil, kapan saya mendapatkan uang cuti selama 3 bulan dirumah, kapan ketika saya melahirkan dan tidak perlu memikirkan biaya yang sudah tercover asuransi dari perusahaan.

tapi kenyataannya tidaklah mudah, pekerjaan saya tetap seperti biasa. malah setiap harinya seperti tertekan karena harus mengejar hal-hal yang tertinggal selama 14 hari isolasi mandiri minggu lalu, dengan keadaan fisik saya yang tidak seperti dahulu. lonjakan hormonal membuat saya cepat kelelahan, perut bagian bawah yang selalu kram pagi, siang, malam. berdiri, jalan kaki, naik turun tangga yang membuat saya sering lemas dan keliyengan. keadaan fisik dan emosional yang tidak stabil. dan sangat sulit berkonsentrasi. 

27 juli 2021. saya mermutuskan absen sehari dari pekerjaan untuk menjalani tes ANC (Antenatal Care) sesuai anjuran Ibu Bidan sekalian meriksakan kehamilan dan mengutarakan keluhan saya yang sering kram. jawaban dari pihak pukesmas tidaklah begitu memuaskan karena konseling hanya sekedar anjuran 'tidak boleh capek', 'makan teratur' dll kemudian saya memutuskan untuk pergi ke klinik swasta, untuk USG dan konseling langsung dengan dokter kandungan. kenapa saya memutuskan USG padahal kehamilan saya baru berusian 7 minggu pada saat itu? karena saya ingin merasa tenang kalau saya benar-benar hamil, bukan hanya sekedar tespek yang memperlihatkan garis 2. saya ingin melihat janin saya yang berkembang apakah benar sehat dan tumbuh di dalam rahim. bukan hamil BO/kosong, bukan hamil yang berada diluar kandungan, bukan penyakit dll dan menjawab keraguan saya dengan gejala perut saya yang sering sakit sepajang waktu.

hasil USG muncul dilayar lengkap dengan usia kehamilan, keadaan dan letak janin. dokter menjelaskan dengan teliti kalau janin saya sehat, sudah ada detak jantung. dan membuat saya benar-benar terharu kalau memang nyata ada mahluk hidup yang ada di rahim saya. dokter menanyakan punya keluhan tidak? saya jawab sering kram. jawaban dokter : saya tidak boleh stress, tidak boleh terlalu capek, kerja jangan terlalu 'ngoyo' harus pelan-pelan karena kehamilan masih sangat muda dan rentan, kata dokter. kemudian saya minta SKD untuk mengisi absensi saya sehari, namun dokter menuliskan saya harus istirahat selama 3 hari, bedrest. dengan diagnosa hamil 7 minggu 1 hari, rawan keguguran. harapan dokter tersebut untuk memaksimalkan pemulihan saya, dan dengan SKD tersebut bisa meringankan pekerjaan saya dan meyakinkan atasan kalau saya memang tidak bisa kerja berat.

sepulang dari klinik saya menangis sepanjang jalan tanpa sepengetahuan suami yang sedang nyetir di depan. melihat hasil USG dan penjelasan doker yang membuat saya sadar tidak boleh memiliki sifat egois dan memaksakan diri. mulai saat ini hidup bukan soal untuk diri saya sendiri tapi ada calon manusia yang harus saya jaga tumbuh kembangnya.

dengan bermodalkan hasil USG dan SKD saya memutuskan untuk berbicara dengan atasan untuk Resign. karena saya merasa tidak akan mampu bertahan lebih lama dengan segala macam tekanan. ada banyak ibu hamil yang bekerja sampai tanggal cuti melahirkan disana namun mereka berada di Departemen yang tidak banyak memikirkan resiko terlalu berat, dengan aktifitas yang bisa dijalani dengan duduk sepanjang hari, sangat berbeda dengan saya :( 

bukan karena saya manja dan ingin bermalas-malasan di rumah tetapi karena saya hanya ingin beristirahat.. saya ingin menjalani kehamilan tanpa rasa lelah berlebihan, tanpa stress berlebihan.. ingin beristirahat demi janin yang saya kandung dan tidak mau mengambil resiko terlalu jauh hanya demi 'uang cuti' .ditambah lagi jika mama sudah berangkat lagi ke luar negeri usai PPKM, siapa juga yang akan mengurus saya ketika berangkat dan pulang kerja?. ketika perut saya nanti akan semakin membesar siapa lagi yang akan mengantar saya untuk berangkat-pulang bekerja? jika suami belum pulang dari perantauan. hiks.

saya resign juga tidak memikirkan nanti kehidupan ekonomi saya akan berkurang karena 100% hanya mengandalkan penghasilan suami yang sedang sulit juga karena pandemi. tidak memikirkan berapa jumlah tabungan yang saya miliki karena semua habis untuk kebutuan saat menikah. tidak memikirkan nanti akan mengurus asuransi mandiri karena sudah stop dari perusahaan. tidak memikirkan semua itu karena saya hanya ingin sehat dan menjalani kehamilan dengan baik. keluarga awalnya tidak ikhlas jika saya resign, "mau ngapain di rumah?" kata mama. tapi seiring berjalannya waktu akhirnya mengerti karena saya juga punya suami yang mendukung keputusan saya.

berat rasanya untuk meninggalkan perusahaan yang sudah banyak memberikan saya ilmu, memberikan saya kesempatan untuk berkembang dan berkarier, serta memberikan saya pembekalan bagaimana sulitnya membentuk mental ketika bekerja di perusahaan startup yang di miliki oleh investor asing. 

sedih rasanya meninggalkan rekan kerja yang sudah banyak membantu saya dari awal dengan segala kekurangan dan keterbatasan saya selama jadi pemimpin mereka, yang bisa dikataan leadership saya jauh dari kata sempurna. jika ditanya "kenapa resign? apa tidak sayang? sedang pandemi mencari pekerjaan susah dll.." namun saya sudah pikirkan semuanya matang-matang dan ini merupakan keputusan yang merupakan terbaik untuk saya dan kondisi calon anak saya. 

usia saya sekarang ini 28 tahun, suami 37 tahun. bisa dibilang kami berdua sudah terlambat untuk menikah, namun sebulan setelah menikah langsung di kasih kpercayaan sama Allah untuk mempunyai momongan. dan tidak ada apapun lagi keinginan saya selain untuk menjaganya supaya kami bisa secepatnya mempunyai keturunan. rejeki insyaallah pasti ada jalannya. yang saya inginkan insyaallah sehat lahir batin. dan tentu saja kesehatan juga termasuk sebagian dari rejeki. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 

rasanya sudah seperti lama sekali saya meninggalkan blog, padahal saya jujur rindu sekali meluangkan waktu untuk menulis. obat mental terbaik untuk mengeksporasi pikiran saya supaya bisa benar-benar berfikir dan lebih memahami diri sendiri.. dengan menulis juga merupakan salah satu. 'ME TIME' terbaik buat saya selain traveling dan rebahan hehe..

satu tahun berlalu, dan postingan terakhir di blog saya juga membahas tentang ulang tahun. seperti rasanya baru kemarin saya berulang tahun ke 27 dan minggu besok ternyata sudah berusia 28. wow..
apa yang sudah saya laluhi tahun ini?

1. kita tidak merindukan sosok pemimpin, tapi sosok kordinator
nike room
menjelang akhir 2020, saya benar-benar terpukul dengan kabar bapak-nya perusahaan akan dipindahkan tugas di luar. meninggalkan apa yang sudah terbangun selama 2 tahun terakhir.. saya termasuk salah satu saksi perjalanan bagaimana perusahaan saya bekerja awal terbentuk. dari tahun 2018, gedung belum jadi, menjadi siswa training, masa percobaan selama 3 bulan, jadi karyawan tetap, hingga di promosikan menjadi Team Leader.. dan rencana melambungkan sayap awal tahun 2021 membangun gedung baru dan seterusnya.. bilamana saya di tanyakan siapa orang yang paling berjasa membentuk saya menjadi seorang pemimpin? jawabananya adalah Beliau. bukan hanya untuk saya, tapi semua orang.. 
namun kehidupan, ada pertemuan juga ada perpisahan. sudah menjadi proses alam. hanya bisa mencoba menerima dan mengikhlaskan sambil mengenal karakteristik pemimpin yang baru.
mungkin saya bukan tipe orang yang mudah mengekpresikan perasaan di depan orang, saya sedih atau kehilangan namun dengan kepergian beliau merupakan hal yang berat juga buat saya, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk beliau semoga selalu sehat dan berumur panjang.
saya juga sadar, dengan bergantinya pemimpin itu juga baik untuk saya sendiri, agar menjadi pribadi yang lebih bisa berkembang. tidak selalu mengandalkan perlindungan dari beliau dan tidak selalu mengandalkan solusi masalah dari beliau.

2. team work & communication
my manager's b-day
tahun kemarin, saya masih menjadi individu yang serba sendiri, tidak tahu planning dan bahkan tidak mengenal rekan-rekan saya sendiri yang masih dalam satu departement haha! karena kita bekerja misah-misah tersebar dari segala penjuru sibuk sendiri-sendiri.. hingga jika semua terkumpul di acara dinner atau meeting, saya seolah merasa terkucilkan, karena ada beberapa orang yang sudah mendoktrin saya dari awal sebenarnya bagian saya salah tempat, management dari awal salah menempatkan bagian saya di suatu departement. hingga membuat saya merasa tidak punya rasa kemilikan dimanapun. siapa sih saya? apasih fungsi saya? karena setiap saya berbuat untuk produksi ada saja yang menilai saya seharusnya tidak begini dan begitu..
waktu berlalu, hingga saya mulai mencoba mengenali mereka semua, tugas dan fungsinya.. saya mulai merasa memiliki rumah. karena jika kita bekerja di suatu perusahaan bukan uang yang akan menggantikan segalanya. tapi hanya kerjasama tim, planning dan komunikasi yang akan bisa menyelesaikan masalah.

3. Ikhlas walau tidak mudah
gambar hanyalah ilustrasi
ada yang bilang "saya menjadi sekarang seperti ini, bukan dari hasil kerja keras, bukan karena saya pinter dll.. tapi karena saya pintar bohong, menjelek jelekan orang lain, cari muka dengan atasan dan nipu-nipu.. "  saya tidak punya apa-apa, gaji berapa? hanya sumber masalah, orang seperti saya langsung PHK bisa!"
kata-kata yang terus terngiang-ngiang setiap hari, setiap malam, hingga sulit makan, sulit tidur, badan lemas hingga saya sakit fisik di permalukan depan orang lain. selalu menangis saya kalau ingat. sakit hati karena apa yang sudah saya lalui selama ini, selama dua tahun terakhir.. belum tentu orang lain mampu secara mental. saya menjadi pimpinan, bukan juga atas dasar pilihan saya dari awal. kamu kan nggak tau, saya dari awal bagaimana. kehidupan saya bagaimana.
hingga saya memilih untuk diam dan menjauh, mencoba mengiklaskan semua.. saya tidak merasa benar ataupun salah, hanya orang-orang disekitar saya saja yang menilai bagaimana sikap dan sifat saya selama ini.. mulai sekarang saya tidak mau berlarut- larut dan tidak ingin bicara kalaupun tidak perlu. saya hanya ingin menjauh, karena berada dengan mereka hanya membuat saya merasa seperti rendahan. ikhas, sabar.. dan diam.

4. Traveling bersama pasangan
dari dulu saya selalu membangga-banggakan sebagai travel-loner karena saya seorang introvert. namun sekarang, sejak punya pasangan kemanapun ingin selalu bersamanya. ingin berbagi kebahagiaan-pun hanya bersamanya.. hingga ketika libur dan mengambil cuti tahunan yang di pikiran saya hanyalah ingin menghabiskan waktu bersamanya.. traveling bersama pasangan juga membuat kita saling mengerti satu sama lain, dari rencana budjet, kuliner, dan belanja. semoga selalu bisa seperti ini <3



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Saya merasa saya sudah terlalu lama berada disini dan merasa seperti terjebak. Berada disuatu tempat yang membuat saya tidak bisa berkembang secara psikologis dan emosional.
Teringat dua minggu yang lalu, saya menemui seorang teman lama yang membuat saya merasa nyaman bisa berbicara bebas tentang apa saja yang saya pikirkan, apa yang sara rasakan. Yang tidak bisa saya keluarkan dengan mudahnya dengan semua orang.. i feel like i'm totaly in my zone..

dan membuat saya sadar. ternyata memang saya membutuhkan seseorang yang seperti Dia untuk mengisi kehidupan saya yang sepi ini.. meskipun itu hanya saat yang singkat. namun saya tidak bisa mengakhiri moment tersebut selama dua minggu terakhir..

Satu sisi saya merasa ingin selalu berada bersama teman saya. Karena saya memang punya sesuatu yang tidak pernah berubah untuknya sejak dulu.. sesuatu yang spesial karena Dia selalu membuat saya jujur dalam segala hal dan membuat saya merasa menjadi manusia yang punya kisah layak untuk di dengar.. yep. he could see me as a person.

Di sisi lain saya memang dalam keadaan bosan dan ingin pulang. Ingin menyendiri entah berapa lama lagi..
dari pada di tempat memuakan ini. dikelilingi orang-orang yang di penuhi omong kosong setiap harinya membuat saya muak. I hate dramaqueens! situasi ini sama persis yang membuat saya teringat teman saya saat kuliah yang yang selalu over dalam kehidupan pribadi nya.. seolah-olah dia ingin membuat semua orang di dunia melihat kecantikannya yang membuat semua pria mengejarnya, seolah-olah dia ingin menunjukan kepada dunia berapa pacarnya begitu cinta mati padanya dan bersedia mempertaruhkan nyawa untuknya. Kemudian dia bergonta ganti mempamerkan foto kekasihnya di sosial media seolah-olah ingin di puji betapa ganteng pacarnya, berapa mesranya dan betapa bahagianya mereka. CIH!! I'm so sick of those people are.. RELATIONSHIP SHOULD BE BETWEEN TWO PEOPLE NOT THE WHOLE WORLD!

kemudian disaat malam tiba. It's like nightmare. Saya tidak pernah beristirahat tenang tanpa mendengar celotehan curhatan orang di sebelah dengan percakapan telfon sampai dini hari dengan segala keluhan seolah-olah mereka adalah manusia yang paling menderita di dunia.. dengan tangisan yang di dramatisir seolah-olah semua orang harus tau dan memperhatikan penderitaannya.

Saya sadar. Tidak semua orang yang menghargai "privacy" seperti saya yang menjaga kehidupan pribadi dengan orang-orang tertentu saja. That why i hate being here.. they seem so weak and lame..

Dear my old friend. I miss you. I wish you always there for me. I realize not everyone can understand me well like you do..
I wish i can runaway from this place, this situation, this people as soon as i can.. i'm Sick!

Jakarta, March 6th 2017

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
kalau tidak salah, minggu kemarin saya melihat artikel yang di share di halaman facebook HelloGiggles. yang ternyata artikel tersebut punya yourtango.com tentang permasalahan wanita. saya suka sekali membaca tentang artikel feminism yang banyak membahas pop culture, tips, motivasi, dengan segala bahasan tentang wanita.
artikel tersebut berjudul "Strong Women Don't Play Victim, They Deal With Their Shit" dan tautan tersebut di tambahkan dengan kata-kata "Maybe We Need Some Though Love, To Remind We are Badass" sebuah judul yang cukup provokatif dan sangat menarik untuk dibaca. sebelum saya membuka artikelnya saya membaca banyak komentar miring dari Netizen tentang artikel tersebut banyak yang menyebutnya terlalu lebay, terlalu merendahkan wanita yang menyebutnya seolah-olah wanita adalah mahluk manja yang suka bermain drama dan suka menyalahkan orang lain dengan masalah yang mereka hadapi.

kemudian tak lama kemudian ternyata judul artikelnya telah berubah menjadi "Confident Woman" bukan "Strong Woman" Hmmmm.. saya rasa artikel ini cocok untuk menggambarkan semua orang, bukan hanya wanita, tapi tentu saja saya tahu maksudnya ini agar wanita merasa terinspirasi untuk lebih mandiri.

setelah saya membaca artikelnya, saya suka sekali karena membuat saya bercermin dan flashback dengan kejadian-kejadian yang saya anggap 'apes' minggu lalu, berbulan-bulan yang lalu bahkan beberapa tahun yang lalu...

ketika kita salah mengambil keputusan, ketika kita dihadapkan dengan masalah, ketika kita bertemu dengan seseorang yang ternyata menyakiti, tak menepati janji, memanfaatkan.. kita pasti lebih reflect untuk menyalahkan orang lain dan menganggap kita sebagai 'korban' dari ketidakadilan sikap dan perilaku orang lain.. itu sudah pasti..

ketika kita melakukan hal yang salah, bahkan kita tau itu adalah pilihan yang salah. namun ketika kita menerima resiko dari pilihan salah tersebut dan menderita, kita pasti akan mencari pembenaran atas apa yang kita pernah lakukan. itu sudah pasti..

dan itu membuat kita lupa, bahwasanya hidup adalah sebuah pilihan dan resiko.. jika kita meyakini kita adalah korban. maka selamanya kita akan menjadi korban.. wanita yang mandiri dan kuat adalah wanita yang mengatasi resiko yang dia ambil walaupun dirinya sebagai pihak yang tersakiti atau dirugikan. jadi berhentilah menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi. jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti melangkah maju. itulah intinya.

Time to stop complaining.
Nothing can be more debilitating than having a victim mindset. 
When you constantly live with the idea that things always just "happen to you," then you remain stuck in your shitty situation. People love to play the role of the victim in their lives because it seems like an easy part that doesn't require a whole lot of effort or confidence. 
You alone are left to handle whatever bad circumstances are dominating your life. Whether it's a job, a boyfriend, a body image issue, money, or all of the above, you can handle it. 

Strong women never play the victim. They're the leading roles in their own lives. 
They don't wallow in their emotions or hide under the covers and wait for the storm to pass.
They get off their asses and fight it head on. 

No, strong women don't get way by having superpowers. It all comes down to your attitude. 
If you believe that you're a victim, than you will always be a victim. 
Once you believe that you're a strong woman who handles her shit, you'll act accordingly. 
Changing the role you play in your life is as easy as changing your mindset. So what are you waiting for? 

Stop blaming other people for your problems. 
Stop using the past as an excuse not to move forward. 
Stop living a life you don't want to live just because it seems easier.

I get it. Creating change can feel really overwhelming sometimes.
So start with baby steps. It doesn't matter how much action you take at first, just do something to get you in the mindset that you're a strong, confident woman who doesn't take any shit. 
The moment you start moving, you'll feel better and more in control of your life. 
You got this, I promise. 
- Emily Blackwood

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Total Pageviews

About Me

About Me
29. I can express myself a lot better through writing than I can through talking. I enjoy writing and I like to think I am good at it. and i just want to be better thinker.

Comments

Follow Me

  • facebook
  • instagram
  • youtube

recent posts

My favorite blog

  • Soul Side Journey
    Dive School
    6 bulan yang lalu
  • BlueStellar's Blog
  • Mommy Diary ®
  • SMOONSTYLE
  • Life Is An Absurd Journey
  • menariberdua
  • lil' thoughts with jen
  • The Birds Papaya
  • gracemelia.com | Parenting Blogger Indonesia
  • The Arsalan Family Journal
  • Diary of an Honest Mom
Perlihatkan 10 Perlihatkan Semua

Label

About Time (4) Alessia Cara (2) art (6) Ask Me Anything (1) Aurora (1) Avril Lavigne (6) beauty (9) Beyonce (1) Birdy (2) Book (6) breastfeeding (4) Bullet Journal (1) Catatan Pribadi (12) Chasing Liberty (1) Chris Jones (1) Christina Perri (10) classmates (2) Demi Lovato (6) Dubai (2) Easy A (1) Elle King (3) Emma Stone (1) Epica (2) Fall Out Boys (1) family (11) fashion (2) First Aid Kit (1) Florence And The Machine (1) friends (13) gardening (1) hangout (13) Healt (2) Human Of New York (1) Iggy Azalea (2) Instagram (7) introvert (16) JOGJAKARTA (1) John Mayer (2) journey of motherhood (13) Keltie Knight (4) kuliner (1) Lana Del Rey (8) Lesson learned (21) Lorde (5) love love love (48) LoveStrong Tour (2) lyric (10) Make Up (2) Matthew Godde (1) Matthew Goode (2) Movie (24) MPASI (1) Muneca Brave (1) Music (47) my pregnancy journey (10) my story and my world (117) Natalia Oreiro (2) naura (5) Once Upon A time in Strorybrooke (5) Orange Is The New Black (1) parenting (2) photography (32) Pieces of my heart (83) plants (2) Playlist (22) quotes (30) Regina Spektor (3) review (12) Sam Smith (2) sampaikan ilmu walaupun satu ayat (2) see who i am (11) Sharon Den Adel (5) Sia (2) Simone Simons (2) sinopsis (12) skin care (2) Stoker (1) Taylor Swift (5) Telenovela (1) The Clique (1) The Lookout (1) The Notebook (1) The Ting Tings (1) traveling (22) Tv series (8) Under The Tuscan Sun (1) Within Temptation (6) work (22)

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • Juli 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Mei 2023 (1)
  • Oktober 2022 (3)
  • September 2022 (4)
  • November 2021 (5)
  • Agustus 2021 (1)
  • Mei 2021 (4)
  • Februari 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Desember 2020 (5)
  • Desember 2019 (2)
  • Februari 2019 (12)
  • Januari 2019 (8)
  • Desember 2018 (2)
  • Mei 2018 (1)
  • Agustus 2017 (2)
  • April 2017 (1)
  • Maret 2017 (9)
  • Februari 2017 (1)
  • September 2016 (2)
  • Juni 2016 (2)
  • Februari 2016 (5)
  • Januari 2016 (3)
  • Desember 2015 (10)
  • November 2015 (4)
  • Oktober 2015 (9)
  • September 2015 (2)
  • Agustus 2015 (2)
  • Juli 2015 (2)
  • Juni 2015 (2)
  • Mei 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (2)
  • Januari 2015 (2)
  • November 2014 (3)
  • Oktober 2014 (7)
  • September 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (6)
  • Januari 2014 (10)
  • Desember 2013 (7)
  • November 2013 (3)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (6)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (2)
  • Juni 2013 (9)
  • Mei 2013 (5)
  • April 2013 (8)
  • Maret 2013 (19)
  • Februari 2013 (5)
  • Januari 2013 (3)
  • Desember 2012 (3)
  • November 2012 (3)

Created with by ThemeXpose