• Home
  • About Me
  • Menu
    • Music
    • Chit-Chat
    • Potography
facebook twitter instagram Email

Canvas Of Life

maybe this is what you need to find your inner bad ass.. "the solitary prowess of a silent life"

kali ini saya akan berbagi pengalaman yang yah bisa dibilang tidak mengenakan, bisa menjadi pembelajaran dan juga kehati-hati an saya dan mungkin bisa menjadi solusi bagi yang membaca tulisan saya jika sedang mengalami hal yang sama.

naura mengantar mama ke poli tht

awalnya saya merasa ada yang tidak beres dengan telinga saya sebelah kiri. sekitar 2 tahun yang lalu ketika saya hamil anak pertama. gatal, merasa sangat penuh seperti kemasukan air dan sering pusing. saya pikir mungkin bawaan hamil. setelah saya mengutarakan keluhan saya ke bidan. bidan hanya memberikan saya paracetamol untuk menghilangkamn pusing. selebihnya saya bersihkan mandiri dengan korek kuping yang di alasi kain. setelah bersih keluhan berangsur-angsur menghilang

setahun kemudian gejala itu pun muncul kembali, saya kembali memeriksakan ke puskesmas. dan di puskesmas di kasih obat tetes telinga, obat minum paracetamol, antibiotik amoxilin, dexametasone, cetirizin hcl. dan membersihkan telinga saya secara mandiri. berhasil sembuh. gatal hilang, pusing hilang.

dan yang terakhir akhir tahun 2023. bulan desember sekitar tanggal 27 saya kembali merasakan gejala yang sama namun lebih parah. telinga kiri saya gatal, sakit nyut-nyut an, seperti tersumbat dan berkurangnya pendengaran. saya membersihkan telinga saya namun mungkin saja kurangnya hati-hati dan membuat mala petaka ini datang. ketika saya berbicara, saya tidak begitu jelas mendengarkan suara saya sendiri. seperti sedang pilek jadi terdengar seperti berdengung dan menggema. kemudian saya meneteskan obat tetes telinga yang saya beli dari apotik merk v*tal ear yang ternyata memperburuk keadaan. di tambah lagi dengan keluarnya cairan bening tidak berbau yang terus menerus keluar dari liang telinga saya sebelah kiri.

akhirnya saya memerikasakan ke puskesmas tanggal 29 desember 2023 dengan harapan bisa langsung dikasih rujukan ke dokter spesialist THT di rumahsakit. namun tidak segampang itu, petugas puskesmas menolak memberikan rujukan dan bilang saya sedang berkeringat banyak sehingga telinga saya terlihat basah dan hanya mengalami radang. harus di obati dahulu dengan obat dari puskesmas, jika di kemudian hari masih ada keluhan priksa kembali ke puskesmas untuk meminta rujukan. saya hanya bisa menghela nafas ya sudahlah.. memang berobat dengan bpjs harus sabar. padahal saya sedang mengalami nyeri telinga sampai tidak bisa tidur dan telinga saya benar-benar berair karena infeksi.

puskesmas memberikan obat anti nyeri, antibiotik dan obat alergi flu. tapi obat yang diberikan tidak berpengaruh apa-apa dan masih terasa nyeri. sampai saya menyadari kalau cairan yang keluar dari telinga kiri saya bukan hanya bening tapi juga nanah. pipi saya juga bengkak sebelah akhibat peradangan, nyeri yang tak tertahankan juga selalu muncul tiada henti. mau kembali ke puskesmas namun sedang tutup karena pergantian tahun 2024. akhirnya saya memeriksakan diri ke dokter umum.

saya ke dokter umum dengan harapan bisa mengurangi nyerinya dulu, sebelum minta rujukan ke dokter THT. sama dokter umum saya dilarang mengorek telinga, dan telinga saya juga tidak boleh kemasukan air dulu, saya di beri obat anti nyeri, antibiotik, alergi.. dan alhamdulillah saya minum obat dari dokter umum nyeri nyut-nyut an yang tidak tertahankan mereda. bengkak di pipi saya juga kempes. namun ketika reaksi obat habis nyeri-nya kambuh-kambuh lagi. 

obat dari dokter umum

2 januari 2024. puskesmas kembali buka, saya langsung memeriksakan diri, mengutarakan keluhan dan meminta rujukan. alhamdulillahnya saya ketemu dengan petugas yang berbeda dengan sebelumnya dan langsung memberikan rujukan tanpa ngomong ini itu.

seminggu pertama, 3 januari 2024. akhirnya saya bisa ke rumahsakit dan ke dokter THT. rasanya benar-benar lega karena bisa memeriksakan telinga saya kepada ahlinya. bukan hanya di lihat di jewer-jewer atau di lihat pakai senter tapi benar-benar di periksa ada apa sih dan apa yang terjadi di dalam lubang telinga saya. bayangan saya ketika di periksa dokter THT ada alat khusus seperti yang saya lihat di tiktok dengan kamera, jadi saya bisa melihat sendiri bagaimana keadaan gendang telinga saja. namun kenyataanya tidak seperti harapan saya hehe alat tersebut tidak ada. dokter hanya melihat dengan alat mini seperti kerucut yang hanya beliau bisa lihat. ya sudahlah hehe bisa periksa ke spesialist dengan bpjs saja saya sudah sangat bersyukur.

telinga saya kemudian di sedot dengan alat seperti sedotan stenlis yang terhubung dengan selang dan berakhir ke sebuah tabung-tabung kaca. saya merasa lega karena cairan dan nanah yang menyumbat telinga saja langsung hilang. namun masih saja terasa tidak nyaman, pendengaran saya masih bermasalah, pusing, berdengung dan suara-suara terdengar menggema. dokter bilang gendang telinga saya robek/berlubang dan infeksi. itulah sumber masalahnya.  telinga saya dilarang terkena air dan dilarang di korek-korek sembarangan. kemudian saya di resepkan obat nyeri, antibiotik dan lain-lain

obat dari dokter sp THT

minggu ke-2. saya kembali ke rumahsakit untuk kontrol dan mengutarakan keluhan. nyeri sudah jarang kambuh namun telinga saya sering terasa gatal tak tertahankan dan cairan bening dan nanah masih saya keluar. kemudian dokter menyedot kembali cairan-cairan tersebut. masih sama, saya belum merasa banar-benar lega dan masih terasa tersumbat. ketika berada di keramaian, di perjalanan telinga saya sering berdenging mengeluarkan suara gemuruh yang durasinya lumayan lama. dokter kembali meresepkan obat yang sama dengan minggu kemarin dan bilang minggu depan kontrol kembali dan akan di resepkan obat tetes telinga.

minggu ke-3. saya kembali ke rumahsakit untuk kontrol dan mulai merasa lelah dengan keadaan telinga saya yang belum juga membaik. dan mulai berfikir mungkin saya terlambat memeriksakan ke dokter jadi pengobatannya sampai berlarut-larut sampai berminggu-minggu tidak kunjung sembuh, ada rasa penyesalan kenapa saya menahan sakit sampai seminggu untuk mendapatkan rujukan dari puskesmas, padahal bisa saja saya keluar biaya langsung ke dokter THT mungkin jadi tidak berlarut-larut keluhannya.. saya bilang kedokter kalau cairan yang keluar dari telinga berangsur-angsur berkurang tapi saya masih merasa budeg sebelah. dokterpun menjawab kalau gendang telinga saya masih sobek, dan kalau sudah sobek bisa sembuh namun penyembuhannya tidak bisa kembali sempurna 100% seperti semula. pemeriksaan kali ini tidak di lakukan sucksion/penyedotan mungkin karena cairan yang keluar mulai mengering. dan saya kembali di resepkan obat yang sama seperti hari pertama dan minggu kedua. di tambahkan obat tetes telinga yang di janjikan minggu kemarinnya.

obat tetes telinga mujarab

sehari, dua hari setelah memakai obat tetes telinga saya tidak merasa langsung membaik. yang ada telinga saya kembali terasa nyeri nyut-nyut an dan cairan obat tetes telinga seperti tembus ke telinga dalam hingga terasa ke dalam kepala. mungkin karena keadaan gendang telinga saya yang masih bolong. tiga hari, empat hari saya mulai merasa enakan dan sudah tidak merasakan nyeri sama sekali. 

minggu ke-4. genap sebulan merasakan penderitaan telinga. keadaan saya benar-benar membaik namun masih saya terasa budeg sebelah, walaupun keluhan-keluhan yang menyiksa sudah hilang namun saya belum bisa mendapatkan pendengaran saya seperti semula. berniat ingin kontrol kembali namun teringat kata dokter kalau gendang telinga robek/berlubang tidak bisa kembali seperti semua. jadi saya mengurungkan niat dan berpasrah dengan kesembuhan sendiri.. hal yang masih mengganggu ketika berada di keramaian atau tempat dengan pengeras suara bising. saya langsung pusing dan pendengaran menjadi menggema.

sudah lebih dari sebulan saya merasa sudah benar-benar sembuh. dan gendang telinga saya yang robek sepertinya sudah berhasil pulih dan menutup dengan sendirinya. namun pendengaran saya tidak seperti semula. jika di bandingkan telinga kanan yang sehat masih 100% namun telinga kiri dengan riwayat robek menjadi 80%

kesimpulan

- jangan terlalu kencang mengorek telinga, bersihkan dengan sewajarnya

- jangan memberikan obat tetes telinga sembarangan yang dijual di apotik atau toko-toko karena berpotensi tambah parah atau infeksi. hanya minum dan mengobati dengan obat-obatan yang di resepkan dokter

- jika ada keluhan telinga ini langsung ke dokter THT

- gendang telinga robek bisa sembuh dengan sendirinya, asalkan tidak infeksi, dan lubang masih relatif kecil. dan harus extra sabar. karena proses menutupnya gendang telinga yang berlubang/sobek tidak bisa memakan waktu sebentar.. butuh 1-2 bulan hingga benar-benar sembuh. namun jika berlubang besar hanya bisa sembuh jika di operasi.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
awal-awal Naura belajar mpasi 6 bulan

sebagai seorang ibu baru, tentu saja saya mencoba banyak belajar. dan yang selalu menjadi panutan instan saya tentu saja social media dan google. semenjak hamil saya ingin sekali menerapkan gaya parenting yang modern. seiring berjalannya waktu saya semakin belajar yang ternyata di media sosial tidak semuanya benar, dan melalui media sosial juga saya sadar mana yang harus di lakukan, mana yang tidak. ketika anak saya, Naura. masih ASI eksklusif saya begitu antusias ketika akan memasuki masa MPASI. saya banyak googling ini itu, peralatan apa saja yang di butuhkan, resep ini itu yang di claim anti GTM, bahan-bahan makanan apa saja yang di percaya bisa menunjang tumbuh kembang anak. saya begitu terjebak dengan euforia ala emak-emak masa kini yang terlalu sosmed yang berkutat dengan menu, menu dan menu sehigga tidak tahu pemahaman dasar, apa itu feeding rules, apa itu naik tekstur.

buku KIA, buku ajaib sumber ilmu yang terlalu di abaikan (BENAR)

buku panduan yang menemani semenjak kehamilan, tapi saya jamin mayoritas ibu-ibu malas membaca. padahal sudah jelas buku itu merupakan sumber dari segala sumber.. dari awal bayi lahir hingga usia anak-anak. cara menyusui, bagaimana cara pelekatan, cara menyimpan ASIP bagi ibu pekerja dan bisa bertahan berapa lama di freezer, chiller maupun suhu ruang, cara membuat Mpasi, kapan waktunya, bagaimana teksturnya disesuaikan usia si bayi, cara stimulasi tumbuh kembang anak dari tengkurap, merangkak hingga berjalan. begitu juga ada penanganan bagaimana menghadapi anak demam, diare dsb.. lengkap. tapi bagi ibu-ibu yang belum menyadari (seperti saya dulu) langsung mencari disosmed cara ini ini, cara itu, bagaimana ini itu yang bisa berakibat keblinger.. jangan sampai kita lebih asik mengikuti parenting artis tertentu, seleb mom, youtuber, influencer apapun itu yang justru sebenarnya tidak baik. contohnya mereka mempromosikan susu formula, makanan bayi instan, vitamin-vitamin dengan iklan yang bombastis, aksesori mpasi menjurus ke produk ultraproses yang justru tidak baik untuk bayi kita. jadi stop sosmed (kecuali untuk dokter anak dan ahli gizi) fokus ke anak kita sendiri dengan panduan Nasional buku KIA.  

Mpasi dini, supaya ketika 6 bulan bayi sudah terbiasa makan (SALAH)

salah satu syarat Mpasi adalah tepat waktu. buka tepat waktu jam berapa kasih makan, tapi tepat waktu anak berusia 6 bulan. sudah belajar duduk dan kepala sudah tegak. tidak ada toleransi di bawah usia 6 bulan apalagi dengan mengasih makan dengan cara berbaring. pengalaman saya ketika Naura berusia 5 bulan, 3 minggu. ada yang mencibir, kenapa belum di belajari makan? seperti anak saya saja, belajar saat usia 4 bulan jadinya di saat 6 bulan sudah terbiasa makan tanpa "hoek hoek"..

tapi saya tetap mengajari Naura makan di saat usianya genap 6 bulan. percayalah mom, walaupun pada awalnya sulit. tapi pada akhirnya bayi kita pasti akan doyan makan juga di waktu yang tepat. tanpa harus Mpasi dini, tanpa harus belajar pure-pure an buah. pada awalnya memang sulit karena bayi juga belajar beradaptasi mengkonsumsi sesuatu selain ASI, belajar mengenali tekstur yang dulunya hanya cairan menjadi agak padat, belajar sendok yang tadinya hanya kenyot-kenyot. belajar mendorong makanan dengan lidahnya, belajar mengenal rasa lapar. tidak usah khawatir bayi kita kurang makan saat 6 bulan, karena di saat awal-awal masih menolak makanan, kebutuhan akan ASI juga masih tinggi.. sedikit demi sedikit menaikan porsi. lama kelamaan ukuran lambung bayi akan semakin besar, dan si kecilpun akan mengenali rasa lapar dan semakin mengenali aktifitas makan menjadi kesehariannya selain menyusu.

bubur fortif tidak apa-apa, karena gizi sudah tertakar (SALAH)

salah satu kesalahan saya, yaitu mengajari Naura makan dengan bubur fortif. mungkin tidak ada yang salah dengan hal itu, bahkan sudah menjadi hal yang di anggap lumrah bahkan bubur fortif begitu di rekomendasikan oleh beberapa Dokter anak karena di claim sudah terfortifikasi dan gizinya sudah tertakar. namun tidak dengan Ahli Gizi masyarakat Dokter Tan dan membuat saya juga belajar. belajar membaca nilai gizi makanan yang tertera di kemasan. yang ternyata bubur instan kemasan begitu tinggi garam dan gula. sebetulnya boleh saja mengkonsumsinya, karena penggunaan bubur fortif sebenarnya disaat kepepet tidak bisa membuat Mpasi misalnya saat berada di perjalanan dsb.. dan bukan untuk konsumsi setiap hari. pagi siang malam sampai berbulan-bulan. bagaimanapun Mpasi homemade buatan mama-nya lah yang terbaik karena bayi kita langsung bisa mengkonsumsi Real food, yang kaya rasa dan nutrisi.

Mpasi harus dari bahan superfood, organik, mahal, bumbu khusus (SALAH)

keju khusus bayi, minyak extra virgin olive oil, kaldu ayam sapi khusus bayi, beras organik, yogurt, Chia seed, Unsalted butter. merupakan bahan-bahan yang pasti tidak asing jika mencari menu Mpasi di sosial media. perlukah anak bayi memerlukan bahan-bahan tersebut? NO! tentu saja tidak. bahkan menggunakan bahan mahal tertentu seperti ayam kampung, ikan salmon, tuna. hakikatnya Mpasi bukan berasal dari bahan-bahan super mahal dan di buat dengan super spesial. Mpasi justru membiasakan anak dari bayi untuk mengikuti menu masakan rumahan. bisa menggunakan menu keluarga yang sehari-hari di makan keluarga, asal tekturnya di sesuaikan. jadi tidak perlu ngoyo-ngoyo semangat menggebu-gebu membeli bakan makanan aneh dan mahal, cukup manfaatkan saja apa yang ada di rumah. seperti halnya daging ayam, hati ayam, ceker ayam, ikan kembung, mujaer, lele, wortel, labu siam, buncis, tahu, tempe, penyedap daun salam dsb   

Gtm karena anak tidak doyan, masakan tidak enak (SALAH)

salah satu faktor keberhasilan menjadi ibu Mpasi adalah mau belajar. tidak bebal ilmu. karena usia 1000 hari kelahiran bayi merupakan golden age yang tidak bisa di sepelekan begitu saja. saya teringat keluh kesah seorang ibu yang mengutarakan kalau anaknya tidak doyan telur, ayam, ikan dan protein hewani lainnya dengan beralasan tidak doyan selalu mual. apakah sudah menjadi takdir anaknya tidak menyukai protein hewani? saya rasa tidak, namun cara pengenalannya saja yang salah. atau cara pemberiannya, cara penyajiannya, suasananya. karena pada awalnya bayi sedang mengenal tektur dulu, baru rasa. jika awalnya tidak berhasil ya coba lagi, coba lagi sampai mau dengan menu yang di sajikan.

Gtm (gerakan tutup mulut) merupakan momok yang sangat menakutkan buat para ibu, saya akui saya sendiri juga sering kewalahan dan bertanya2 kenapa anak saya tidak doyan makan? namun setelah saya belajar banyak faktor juga mempengarui kenapa bisa Gtm. bisa jadi lidahnya yang berjamur, sedang sakit, tumbuh gigi, masalah pencernaan. jadi PR kita para orangtua yaitu bagaimana mengenali dan mengevaluasi pola makan anak, cari penyebabnya dan memikirkan solusinya. bukan malah lompat dengan mencari resep menu anti Gtm dengan menambahkan bahan-bahan aneh, menggunakan vitamin nafsu makan, madu-madu an, jamu-jamu an yang justu tidak ada efektifitasnya dan hanya menjadi korban iklan.

bayi makan sendirian, di gendong kesana kemari (SALAH)

ini juga merupakan hal yang sangat sulit di rubah, termasuk saya. memberi makan bayi dengan cara di gendong kesana kemari, melihat ayam, melihat kucing. yang seharusnya makan adalah suatu aktifitas bersama. anak makan dengan ibunya, di suap ibunya, satu meja dengan anggota keluarga lainnya. sehingga tidak tercipta anak makan sambil di gendong bahkan sambil berlarian.

begitulah pemikiran saya bedasarkan apa yang saya alami. saya juga masih terus belajar menjadi ibu. saya menyayangkan kenapa rata-rata para ibu di indonesia memperoleh ilmu seperti ini di dapatkan secara otodidak. akan lebih baik jika di masukan dalam kurikulum pelajaran sekolah akan lebih bermanfaat, karena menjadi ibu hamil, ibu pasca melahirkan, proses menyusui, pemberian Mpasi merupakan proses awal para Ibu menghasilkan generasi anak-anak yang sehat dan berkualitas. semoga tulisan saya ini juga bisa menjadi ilmu buat para Ibu yang tak hentinya belajar untuk mendampingi dan  mengasihi buah hati.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

sedikit melenceng dari tema motherhood yang belakangan ini saya tulis sejak menjadi newmom. hehehe beberapa bulan yang lalu saya melihat postingan tiktok dengan caption "when you are not pretty, so you have to study harder, so that at least people appreciate your existense" kalau di translate menjadi : jika kamu tidaklah cantik, kamu harus lebih giat belajar jadi setidaknya orang-orang mengapresiasi keberadaanmu.

hmmm.. sebagai alumni minderan, memang hal ini cukup sulit karena saya juga benar-benar merasakannya dulu, ketika saya merasa jelek bukan karena bernasib jelek. namun, karna penilaian dan perlakuan orang-orang yang membuat saya seperti menjadi berbeda dan tidak bisa join dengan circle toxic mereka. yang pada akhirnya membuat saya menjadi pribadi yang tidak bersyukur dan rendah diri..

but, that's the problem, honey.. dunia ini begitu luas dan kehidupan bermasyarakat bukan sebatas di sekolahan atau di universitas saja. maka dari itu pintar akademik saja juga tidaklah cukup.. apa artinya lulus dengan nilai terbaik, juga nanti di dunia kerja masih tergerus dengan beauty standart. perusahaan dimana-mana pada awalnya lebih mengutamakan punya pegawai yang berpenampilan menarik. bla bla.. belum lagi hidup di masyarakat yang penuh dengan bodyshamming.

Maka... jikalah berusaha disatu bidang tidaklah berhasil, maka gali potensi yang lain. walaupun tidak goodlooking tapi punya potensi2 yang lain.. berkaca dari pengalaman pribadi yang selalu merasa insecure dari dulu.. lama-lama capek harus terus-terusan ngerasa minder, akhirnya bisa menerima diri sendiri.. menjauh dari circle yang penuh body shamming lebih menyehatkan mental dan mendapatkan ketenangan batin. memanglah tidak mudah karena "loving yourself + self acceptance" bukanlah proses instan, dan belajarnya bertahun-tahun supaya bisa menghilangkan rasa baper..  keluar dari lingkungan toxic & carilah tempat dimana yang lebih bisa menghargai keberadaanmu. apa adanya.

barulah akan sadar.. 

you're WORTHY and you're so much more than that..!

dan satu lagi naikin value diri sendiri, bukan karena ingin di puji, bukan karena ingin keberadaannya di akui. tapi untuk menambah kualitas diri. beauty privilige is real tapi pada akhirnya manusia semua akan menua, dan orang akan melihat bukan hanya dari penampian tapi dari kepribadian kita.

saya jadi ingat dengan puisi rupi kaur yang berjudul i want to apologize tentang beauty privilige yang jika di translate berbunyi seperti ini :

“Saya ingin meminta maaf kepada semua wanita yang saya sebut cantik. sebelum saya menyebut mereka cerdas atau berani. saya minta maaf saya membuatnya terdengar seolah-olah sesuatu yang sederhana seperti apa yang kamu miliki sejak lahir. hanya itu yang harus kamu banggakan, ketika kamu telah memecahkan gunung dengan kecerdasanmu. mulai sekarang saya akan mengatakan hal-hal seperti: kamu tangguh, atau kamu luar biasa. bukan karena menurutku kamu cantik tapi karena saya ingin kamu tahu, kamu lebih dari itu” YOU ARE SO MUCH MORE THAN THAT.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

bawa bayi ke mall? yay or nay? saya termasuk ibu-ibu introvert tapi yang juga demen banget sama yang namanya plesiran. semenjak hamil trimester 3 sudah jarang dan hampir tidak pernah pergi jauh kecuali memang untuk berkunjug ke rumah saudara atau untuk keperluan check ke dokter. semenjak melahirkan juga merasa aktifitas jalan-jalan juga cukup terbatas. karena takut anak kenapa-napa disaat di bawa bepergian jauh atau terkena angin. semua aktifitas belanja kebutuhan rumahtangga juga saya banyak di pesan secara online, belum berani bawa ke mall atau ke supermaret karena takut anak saya yang masih newborn ketemu banyak orang di tempat umum yang rawan virus.

namun selesai melahirkan 40 hari, saya harus tetap mudik ke kampung suami untuk silaturahmi pada saat idulfitri. jadi anak saya dari sebelum usia dua bulan sudah harus keluar motoran. lama kelamaan saya juga ingin sekali ke mall, pertama kali ke mall anak saya kira-kira sudah 2 bulan. tidak begitu berkesan menurut saya karena anak saya belum mengenali keramaian atau objek-objek sekitar karena masih di gendong, hanya diam dan tidur.. pada saat itu juga tidak membawa stroller dan anak full di gendong, jadi cukup membuat kelelahan dan pundak terasa pegal banget.

kedua kalinya, saya ngemall sama anak ketika usia 7 bulan. dan sudah terasa begitu mengasyikan. karena anak sudah bisa duduk mandiri, bisa mengenali tempat baru, terlihat excited saat bermain, mengenali suara keramaian dan cahaya lampu-lampu yang menarik perhatiannya.




jadi jika sekarang di tanya, bawa bayi ke mall. yay or nay? jawabannya yay! tapi tidak begitu semena-mena asal bawa seperti bawa badan sendiri. karena bayi masih begitu fragile dengan dunia luar maka harus ada beberapa yang perlu di perhatikan sebelum membawa serta baby keluar..

  • pastikan kondisi badan si anak benar-benar sehat dan punya mood yang baik
yang paling utama dan penting adalah kondisi badan anak dulu, karena mall tempatnya begitu banyak orang, apalagi begitu ramenya pas weekend. jadi bayangkan walaupun tempatnya indoor adem ber-AC tapi disana juga sarangnya bakteri dan virus. beuh! jadi pastikan kondisi badan anak sehat. tidak sedang pilek/flu, batuk. pastikan juga si baby sedang mood yang baik. tidak sedang rewel atau ngantuk.
  • sudah kenyang, mandi dan tidur
ini juga penting yah, karena saya tidak akan segera berangkat jika si baby sedang rewel. dan rela mengulur waktu supaya anak sudah makan dulu, sudah menyusu dan sudah tidur, walaupun sepanjang perjalanan akan tidur lagi.
  • persiapan bekal
selain asi/sufor, jika anak sudah 6+ bulan pastikan bawa makanan dan minuman pula, minimal bawa air putih dalam botol supaya sewaktu-waktu anak haus tidak perlu repot mencari air mineral. bawa juga standart perbekalan bayi seperti diapers, tisu kering, tisu basah, baju ganti, kupluk, jaket/selimut 
  • jangan sendirian, repot.
biar mudah dicari, semua perlengkapan di bawa dalam satu tas. jangan sendirian ketika ngemall karena tujuannya supaya ada yang bisa membawakan tas. haha.. kalau tidak akan begitu berat dan merepotkan sekali.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
disini saya akan mulai membagi pengalaman saya ketika mendapati saya hamil untuk pertama kalinya, anak pertama. buat saya pengalaman saya ini benar-benar akan selalu di ingat, bukan hanya berkesan namun juga seperti a journey and life changing experience to me. my baby is like a little gift. not a little exactly, but a huge gift.

saya dan suami menikah tanggal 5 juni 2021, sebuah penantian yang cukup panjang dari perjalanan perkenalan kami yang sudah lebih dari dua tahun. but i believe, sesuatu pasti indah pada waktunya dan hitungan waktu kuasa Tuhan untuk menyatukan kita tidak pernah terasa terlalu cepat atau terlalu lama.

saya tidak ingin menunda kehamilan, mungkin karena usia saya yang sudah 28 tahun dan suami 37 tahun membuat kita juga sepakat untuk (harapannya) segera memiliki keturunan.  yang ternyata 5 hari sebelum saya menikah saya berada di fase menstruasi. yaitu tanggal 30 mei 2021. dan tanggal 5 juni 2021 adalah hari dimana saya menikah. sebelum menikah saya sudah benar-benar niat menandai kapan akan menstruasi, mulai mencari ilmu juga tentang menghitung masa subur, kapan terjadinya ovulasi dll.. 

2 minggu setelah menikah, saya merasakan gejala-gejala yang bisa di bilang sama dengan gejala PMS. perut terasa sedikit kram, payudara terasa nyeri, sakit kepala, ingin makan yang pedas-pedas dan manis, dan keluar flek coklat sedikit seperti tanda awal menstruasi. pada saat itu saya smpat down, mungkin saya akan menstruasi lagi, dan bulan ini belum hamil dulu. saya bahkan sudah menyiapkan pembalut di tas kerja saya, jika kapan saja saya mulai menstruasi bulan ini.
foto liburan keluarga 27 juni 2021 
3 minggu setelah menikah, saya sekeluarga liburan ke-pantai. pada saat itu kondisi badan saya tidak terasa sehat seperti biasa, tenggorokan sakit dan suhu badan hangat seperti mau demam. dalam perjalanan pulang saya nyetir motor sambil nglenger dan tidak sengaja menabrak mobil yang ngrem mendadak, otomatis perut saya terbentur ke setang motor yang lumayan sakit banget dan bikin kedua bahu saya nyeri dua hari berikutnya.. sepulannya dari pantai, kita jalan-jalan ke mall dan pijat refleksi. lumayan mengurangi lelah dan pegal karena perut dan bahu terbentur, namun sang terapist-nya juga bilang "mba lagi sakit yah? badannya lumayan anget" kemudian saya jawab "iya, sedang agak tidak enak badan" sepulang dari liburan saya coba untuk mengetes kehamilan menggunakan tespek, karena mungkin saja saya tidak enak badan karena mau hamil. namun hasilnya masih garis satu karena memang yah.. saya belum telat datang bulan, jadi yah terasa sia-sia saja.

besoknya saya kembali berangkat bekerja dan menjalani aktifitas seperti biasa, namun kondisi badan saya terasa aneh.. greges, suhu badan panas turun tidak mempan diberi obat penurun panas, tenggorokan juga sakit, keringat dingin bercucuran terus. sepulang kerja langsung demam tinggi dua hari berturut-turut, dihari ketiga demam saya turun namun saya merasa ada yang aneh karena seluruh tubuh saya terasa lemas, kehilangan nafsu makan. dan indra penciuman saya juga hilang begitu saja..
tidak bisa menghirup parfum yang ketika saya sehat itu saya sangat benci wangi parfum tersebut karena baunya yang begitu menyengat. bahkan bau bensin sampai saya dekatkan di hidung-pun tidak terasa bau apapun. saya menceritakan keadaan saya kepada keluarga dan mereka langsung membawa saya ke klinik untuk tes swab.
surat hasil swab
hasil swab menyatakan kalau saya reactive covid-19, alat antigennya pun saya lihat juga bergaris dua. sepulangnya dari klinik saya disuruh untuk menandatangani surat pernyataan bahwa saya akan menjalani karantina mandiri selama 14 hari, tidak boleh bersosialisasi dengan siapapun termasuk keluarga. lapor kepada pemerintah desa kalau saya sedang menjalani karantina mandiri, lapor kepada departement health & safety di tempat kerja untuk membuatkan SDK absen tidak bekerja selama 14 hari.
kunjungan dari pemerintah desa & petugas pukesmas
sedih? mental down? sudah pasti.
saya kita segala gejala aneh yang datang adalah suatu tanda bahwa saya sedang hamil. karena saya belum begitu paham dengan gejala kehamilan seperti apa, yang saya rasakan tidak enak badan, mudah lelah, tenggorokan sakit, demam, tidak nafsu makan, greges dan pucat. dan kenyataanya adalah swab antigen dengan hasil reactive/positif covid-19.. saya sempat menangis sejadi-jadinya karena corona is real!! anosmia yang saya derita menunjukan kalau saya memang benar-benar kehilangan indra penciuman dan perasa yang menjadi salah satu gejala covid-19.

bulan juni dan juli 2021 merupakan puncak kasus covid-19 yang terjadi di indonesia. hampir setiap hari selalu saja ada pengumuman kabar duka orang meninggal di semua daerah. bahkan ada beberapa orang juga di tempat kerja saya yang meninggal karena kasus covid-19 tersebut sampai pemakamannya menggunakan protocol covid-19. hampir setiap hari, setiap malam juga ada suara ambulance wara-wiri membawa pasien dari/ke rumahsakit. bisa dibayangkan betapa terguncangna saya pada saat itu.
saya masih muda, baru saja menikah, ingin segera hamil, ingin sekali kembali menjadi manusia yang produkif, ingin sekali kembali ke kehidupan sosial. bukan terkurung menjauh dari semuanya, dari keluarga dari tempat kerja.. bukan dijauhi seperti halnya sumber penyakit menular.. sedih..

alhamdulillah seminggu kemudian kondisi saya sudah mulai pulih, nafsu makan saya sudah mulai kembali walaupun lidah saya belum bisa merasakan rasa apapun, tapi saya harus tetap makan. minum berbagai obat dan vitamin yang jumlahnya juga tidak sedikit. indra penciuman saya juga belum pulih, namun saya sudah bisa bangun bergerak aktif, berjalan kaki keluar rumah (tentu saja dengan menjaga jarak), dan berjemur untuk meningkatkan imun..

tidak terasa, tanggal menunjukan 7 juli 2021.. kondisi saya sudah mulai sembuh. tetapi seminggu karantina mandiri memunculkan gejala aneh lagi. jantung saya sering berdegup kencang, perut tidak nyaman seperti kram, bagian ketiak kanan-kiri terasa sakit juga payudara saya terasa bengkak. saya baru sadar seminggu pula meninggalkan tanggal menstruasi saya yang terakhir. saya belum merasa ge'er kalau saya ini hamil, karena dari dulu siklus menstruasi saya selalu telat seminggu dari tanggal HPHT, yaitu siklusnya 37 hari.. dan  besoknya sehari, dua hari kemudian saya baru merasa heran. kenapa saya belum menstruasi juga ya? kegalauan kembali terjadi karena saya ingin pergi ke apotik untuk membeli tespek, namun sadar diri karena masih dalam pengawasan karantina mandiri.. penasaran ingin melihat hasilnya, namun terkendala keterbatasan pula..

diam-diam saya berhasil mendapatkan beberapa tespek dari berbagai merk, dengan cara tertentu hehe
dan hasilnya menunjukan garis dua. saya coba lagi dengan merk tespek lain ada yang hasilnya masih samar, terkahir saya coba lagi dengan merk lainnya lagi hasilnya sudah sangat-sangat jelas garis dua. what??
hasil tespek dari sebelum menikah, sebelum terlambat haid, dan selama karantina mandiri
berhasil. sebulan kemudian setelah menikah, saya sudah tidak mengalami menstruasi, namun langsung positif hamil. alhamdulillah.. saya langsung memberi tahu keluarga dan disambut rasa syukur yang amat sangat membahagiakan, terutama Mama yang terlihat sangat excited akan segera mendapatkan cucu pertama. Mama sampai mengucapkan Alhamdulillah beberapa kali karena merasa doa-doanya terkabul karena menginginkan saya segera memiliki keturunan yang bahkan saya mendapatkannya tanpa harus menunggu lama. terharu...

ada beberapa yang bilang mungkin saya bukan tertular virus Corona, tapi karena merasakan gejala hamil. bahkan ibu bidan juga bilang, waktu saya karantina mandiri sebenarnya sudah memasuki masa-masa hamil, namun belum bisa di deteksi menggunakan tespek karena hormon HCG dalam urine belum terlalu banyak karena kandungan masih sangat kecil. but it's not completly true, either.. this is my body and i can tell the different!

Gejala covid-19 yang saya alami:
- anosmia (kehilangan indra penciuman & perasa) 
- demam berhari-hari
- pucat
- tenggorokan sakit
- keringat dingin
- mudah lelah
- nafas pendek.

Gejala kehamilan yang saya alami: 
- perut kram seperti PMS (peningkatan hormon menyebabkan kontraksi rahim. rahim mengalami pembesaran guna mempersiapkan rumah untuk janin, sehingga menyebabkan ligamen dan otot yang menopang rahim menjadi menegang)
- payudara sakit/bengkak (karena perubahan hormon menyebabkan meningkatnya aliran darah dan jaringan payudara, rasa sakitnya sama seperti bengkak saat PMS, kesenggol saja sakit sampai tidak sanggup rasanya mengenakan bra haha)
- ketiak kanan-kiri terasa sakit (rasa sakit di area ketiak berhubungan langsung dengan payudara yang kian nyeri. pembengkakan terjadi karena jaringan kelenjar susu yang berada dekat ketiak mulai mengisyaratkan fungsinya untuk mempersiapkan produsi ASI nantinya)
- Jantung berdegup kencang (disebabkan oleh peningkatan volume darah saat hamil, pasokan darah yang dibawa lebih dari biasanya, darah yang berlebih ini digunakan untuk membawa oksigen yang cukup si calon bayi)
- keluar flek coklat sedikit (pendarahan implantasi, proses kematangan antara sel telur & sel sperma. proses ini terjadi antara sekitar 7-14 hari setelah berhubungan seksual. saya bahkan sebelumnya tidak mengerti jika sebelum hamil akan ada pendarahan sedikit, sebagai tanda berhasilnya pembuahan di rahim. dan mengira kalau flek yang keluar merupakan darah haid, yang saya ceritakan di atas kejadian 2 minggu setelah menikah)
- pusing (penyebab pusing saat hamil karena perubahan hormon dan peningkatan volume darah menyebabkan melebarnya pembuluh darah pula)

dan jika ada lagi yang bilang saya bukan terkena gejala Corona, tapi karena hamil. No... saya akan jawab, saya mengalami keduanya! and Corona is real! hehe selesai karantina mandiri, tanggal 15 juli 2021 saya berangkat kerja seperti biasa dan ke klinik perusahaan dulu untuk swab ulang sebelum berinteraksi dengan teman kerja, dan hasilnya sudah Non Reaktif. Alhamdulilah..

hasil antigen non reactive/negativ covid-19 di klinik perusahaan
Dear God. Thank you.
terimakasih sudah memberikan saya umur yang panjang, kesehatan yang baik dan juga cepat di berikan kepercayaan untuk memiliki keturunan. terimakasih juga untuk keluarga saya yang senantiasa mendukung secara fisik dan mental, saya menjadi tidak down sehingga proses healing menjadi sangat cepat. terimakasih Mama yang senantiasa never give up on me. and i feel truly loved! walaupun saya sering sebal karena dipaksa makan disaat tidak ada nafsu makan sama sekali karena lidah tidak bisa merasakan apapun. hehe terimakasih suamiku.

Thank you, Life!

kemudian saya flasback lagi, mengenang kejadian-kejadian sebelum saya dinyatakan positif hamil, menghitung usia kehamilan berdasarkan HPHT (hari pertama haid terakhir) maka tanggal 27 juni 2021 ketika saya berlibur ke pantai bersama keluarga maka saat itu sebenarnya saya sudah hamil dengan usia kandungan 4 minggu, namun saya belum menyadarinya... jadi saya anggap ini merupakan foto maternity pertama..




Share
Tweet
Pin
Share
No comments

26-08-2021. terbangun dari tidur siang, bermimpi sesuatu yang tak asing. di produksi ada yang salah memakai barang, mereka menjahit dengan warna benang yang salah, mereka memasang komponen yang tidak sesuai dengan style. kemudian saya di panggil ke tkp dihadapan para atasan sambil menunjukan pekerjaan mereka. mereka menerangkan permasaahan dengan nada bicara seperti biasanya. yang seolah-olah menyalahkan saya. tidak becus mengordinasi inventory. saya mencari dimana letak permasalahannya dan membela diri namun saya terbangun.. dehidrasi.. perut kram. merasa kesal. tapi setelah beberapa saat saya bersyukur. merasa bersyukur karena itu semua hanyalah mimpi, dalam kenyataan saya tidak lagi berada di tempat yang kapan saja akan di salahkan, kapan saja merasa terasa terexpose seolah-olah menjadi 'tersangka' oleh kesalahan saya, kesalahan orang lain yang harus saya tanggung, atas kejadian yang bahkan saya tidak ketahui. 

5 Juni 2021 lalu saya menikah, 29 Juni 2021 kesehatan saya drop, demam tinggi 2 hari. 30 Juni 2021 saya divonis positif Covid-19 tidak bisa bekerja 14 hari kemudian karena harus isolasi mandiri. sedih? sudah pasti. sempat merasa lega karena bisa menghindar dari pekerjaan yang stressfull, istirahat memfokuskan kesehatan. namun ternyata tidak mudah, pekerjaan saya malah bertumpuk selama 2 minggu tertinggal. semakin membuat stress dikala sedang isolasi mandiri karena begitu banyak permasalahan yang terjadi, tapi yang hanya bisa lakukan dengan menonton grup, tanpa bisa mengeksekusi. dan semakin kian membuat kecemasan. sempat berfikir ingin resign saja ketika hamil karena kemungkinan saya tidak akan kuat menghadapi permasalahan pekerjaan yang kian rumit. tentu saja itu hanyalah benak saya ketika benar-benar merasa cemas, panik dan helpless dengan mental saya saat berada masa isolasi. terasingkan dengan keluarga, karena saya harus misah tempat tinggal sementara.

7 juli 2021 ternyata positif hamil. kesehatan saya kembali drop. namun, saya sempat bersemangat dan berfikir positif menyambutnya karena kemungkinan pekerjaan saya akan menjadi ringan karena toleransi ibu hamil di lingkungan kerja, tidak pulang sampai malam juga. segala benak ingin resign saat berada masa isolasi mandiri coba saya hilangkan jauh-jauh karena sudah membayangkan kapan cuti kehamilan tiba, kapan saya mulai belaja baju hamil, kapan saya mendapatkan uang cuti selama 3 bulan dirumah, kapan ketika saya melahirkan dan tidak perlu memikirkan biaya yang sudah tercover asuransi dari perusahaan.

tapi kenyataannya tidaklah mudah, pekerjaan saya tetap seperti biasa. malah setiap harinya seperti tertekan karena harus mengejar hal-hal yang tertinggal selama 14 hari isolasi mandiri minggu lalu, dengan keadaan fisik saya yang tidak seperti dahulu. lonjakan hormonal membuat saya cepat kelelahan, perut bagian bawah yang selalu kram pagi, siang, malam. berdiri, jalan kaki, naik turun tangga yang membuat saya sering lemas dan keliyengan. keadaan fisik dan emosional yang tidak stabil. dan sangat sulit berkonsentrasi. 

27 juli 2021. saya mermutuskan absen sehari dari pekerjaan untuk menjalani tes ANC (Antenatal Care) sesuai anjuran Ibu Bidan sekalian meriksakan kehamilan dan mengutarakan keluhan saya yang sering kram. jawaban dari pihak pukesmas tidaklah begitu memuaskan karena konseling hanya sekedar anjuran 'tidak boleh capek', 'makan teratur' dll kemudian saya memutuskan untuk pergi ke klinik swasta, untuk USG dan konseling langsung dengan dokter kandungan. kenapa saya memutuskan USG padahal kehamilan saya baru berusian 7 minggu pada saat itu? karena saya ingin merasa tenang kalau saya benar-benar hamil, bukan hanya sekedar tespek yang memperlihatkan garis 2. saya ingin melihat janin saya yang berkembang apakah benar sehat dan tumbuh di dalam rahim. bukan hamil BO/kosong, bukan hamil yang berada diluar kandungan, bukan penyakit dll dan menjawab keraguan saya dengan gejala perut saya yang sering sakit sepajang waktu.

hasil USG muncul dilayar lengkap dengan usia kehamilan, keadaan dan letak janin. dokter menjelaskan dengan teliti kalau janin saya sehat, sudah ada detak jantung. dan membuat saya benar-benar terharu kalau memang nyata ada mahluk hidup yang ada di rahim saya. dokter menanyakan punya keluhan tidak? saya jawab sering kram. jawaban dokter : saya tidak boleh stress, tidak boleh terlalu capek, kerja jangan terlalu 'ngoyo' harus pelan-pelan karena kehamilan masih sangat muda dan rentan, kata dokter. kemudian saya minta SKD untuk mengisi absensi saya sehari, namun dokter menuliskan saya harus istirahat selama 3 hari, bedrest. dengan diagnosa hamil 7 minggu 1 hari, rawan keguguran. harapan dokter tersebut untuk memaksimalkan pemulihan saya, dan dengan SKD tersebut bisa meringankan pekerjaan saya dan meyakinkan atasan kalau saya memang tidak bisa kerja berat.

sepulang dari klinik saya menangis sepanjang jalan tanpa sepengetahuan suami yang sedang nyetir di depan. melihat hasil USG dan penjelasan doker yang membuat saya sadar tidak boleh memiliki sifat egois dan memaksakan diri. mulai saat ini hidup bukan soal untuk diri saya sendiri tapi ada calon manusia yang harus saya jaga tumbuh kembangnya.

dengan bermodalkan hasil USG dan SKD saya memutuskan untuk berbicara dengan atasan untuk Resign. karena saya merasa tidak akan mampu bertahan lebih lama dengan segala macam tekanan. ada banyak ibu hamil yang bekerja sampai tanggal cuti melahirkan disana namun mereka berada di Departemen yang tidak banyak memikirkan resiko terlalu berat, dengan aktifitas yang bisa dijalani dengan duduk sepanjang hari, sangat berbeda dengan saya :( 

bukan karena saya manja dan ingin bermalas-malasan di rumah tetapi karena saya hanya ingin beristirahat.. saya ingin menjalani kehamilan tanpa rasa lelah berlebihan, tanpa stress berlebihan.. ingin beristirahat demi janin yang saya kandung dan tidak mau mengambil resiko terlalu jauh hanya demi 'uang cuti' .ditambah lagi jika mama sudah berangkat lagi ke luar negeri usai PPKM, siapa juga yang akan mengurus saya ketika berangkat dan pulang kerja?. ketika perut saya nanti akan semakin membesar siapa lagi yang akan mengantar saya untuk berangkat-pulang bekerja? jika suami belum pulang dari perantauan. hiks.

saya resign juga tidak memikirkan nanti kehidupan ekonomi saya akan berkurang karena 100% hanya mengandalkan penghasilan suami yang sedang sulit juga karena pandemi. tidak memikirkan berapa jumlah tabungan yang saya miliki karena semua habis untuk kebutuan saat menikah. tidak memikirkan nanti akan mengurus asuransi mandiri karena sudah stop dari perusahaan. tidak memikirkan semua itu karena saya hanya ingin sehat dan menjalani kehamilan dengan baik. keluarga awalnya tidak ikhlas jika saya resign, "mau ngapain di rumah?" kata mama. tapi seiring berjalannya waktu akhirnya mengerti karena saya juga punya suami yang mendukung keputusan saya.

berat rasanya untuk meninggalkan perusahaan yang sudah banyak memberikan saya ilmu, memberikan saya kesempatan untuk berkembang dan berkarier, serta memberikan saya pembekalan bagaimana sulitnya membentuk mental ketika bekerja di perusahaan startup yang di miliki oleh investor asing. 

sedih rasanya meninggalkan rekan kerja yang sudah banyak membantu saya dari awal dengan segala kekurangan dan keterbatasan saya selama jadi pemimpin mereka, yang bisa dikataan leadership saya jauh dari kata sempurna. jika ditanya "kenapa resign? apa tidak sayang? sedang pandemi mencari pekerjaan susah dll.." namun saya sudah pikirkan semuanya matang-matang dan ini merupakan keputusan yang merupakan terbaik untuk saya dan kondisi calon anak saya. 

usia saya sekarang ini 28 tahun, suami 37 tahun. bisa dibilang kami berdua sudah terlambat untuk menikah, namun sebulan setelah menikah langsung di kasih kpercayaan sama Allah untuk mempunyai momongan. dan tidak ada apapun lagi keinginan saya selain untuk menjaganya supaya kami bisa secepatnya mempunyai keturunan. rejeki insyaallah pasti ada jalannya. yang saya inginkan insyaallah sehat lahir batin. dan tentu saja kesehatan juga termasuk sebagian dari rejeki. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Total Pageviews

About Me

About Me
29. I can express myself a lot better through writing than I can through talking. I enjoy writing and I like to think I am good at it. and i just want to be better thinker.

Comments

Follow Me

  • facebook
  • instagram
  • youtube

recent posts

My favorite blog

  • Soul Side Journey
    Dive School
    1 minggu yang lalu
  • BlueStellar's Blog
  • Mommy Diary ®
  • SMOONSTYLE
  • Life Is An Absurd Journey
  • menariberdua
  • lil' thoughts with jen
  • The Birds Papaya
  • gracemelia.com | Parenting Blogger Indonesia
  • The Arsalan Family Journal
  • Diary of an Honest Mom
Perlihatkan 10 Perlihatkan Semua

Label

About Time (4) Alessia Cara (2) art (6) Ask Me Anything (1) Aurora (1) Avril Lavigne (6) beauty (9) Beyonce (1) Birdy (2) Book (6) breastfeeding (4) Bullet Journal (1) Catatan Pribadi (12) Chasing Liberty (1) Chris Jones (1) Christina Perri (10) classmates (2) Demi Lovato (6) Dubai (2) Easy A (1) Elle King (3) Emma Stone (1) Epica (2) Fall Out Boys (1) family (11) fashion (2) First Aid Kit (1) Florence And The Machine (1) friends (13) gardening (1) hangout (13) Healt (2) Human Of New York (1) Iggy Azalea (2) Instagram (7) introvert (16) JOGJAKARTA (1) John Mayer (2) journey of motherhood (13) Keltie Knight (4) kuliner (1) Lana Del Rey (8) Lesson learned (21) Lorde (5) love love love (48) LoveStrong Tour (2) lyric (10) Make Up (2) Matthew Godde (1) Matthew Goode (2) Movie (24) MPASI (1) Muneca Brave (1) Music (47) my pregnancy journey (10) my story and my world (117) Natalia Oreiro (2) naura (5) Once Upon A time in Strorybrooke (5) Orange Is The New Black (1) parenting (2) photography (32) Pieces of my heart (83) plants (2) Playlist (22) quotes (30) Regina Spektor (3) review (12) Sam Smith (2) sampaikan ilmu walaupun satu ayat (2) see who i am (11) Sharon Den Adel (5) Sia (2) Simone Simons (2) sinopsis (12) skin care (2) Stoker (1) Taylor Swift (5) Telenovela (1) The Clique (1) The Lookout (1) The Notebook (1) The Ting Tings (1) traveling (22) Tv series (8) Under The Tuscan Sun (1) Within Temptation (6) work (22)

Blog Archive

  • September 2024 (1)
  • Juli 2024 (1)
  • Februari 2024 (1)
  • Mei 2023 (1)
  • Oktober 2022 (3)
  • September 2022 (4)
  • November 2021 (5)
  • Agustus 2021 (1)
  • Mei 2021 (4)
  • Februari 2021 (1)
  • Januari 2021 (1)
  • Desember 2020 (5)
  • Desember 2019 (2)
  • Februari 2019 (12)
  • Januari 2019 (8)
  • Desember 2018 (2)
  • Mei 2018 (1)
  • Agustus 2017 (2)
  • April 2017 (1)
  • Maret 2017 (9)
  • Februari 2017 (1)
  • September 2016 (2)
  • Juni 2016 (2)
  • Februari 2016 (5)
  • Januari 2016 (3)
  • Desember 2015 (10)
  • November 2015 (4)
  • Oktober 2015 (9)
  • September 2015 (2)
  • Agustus 2015 (2)
  • Juli 2015 (2)
  • Juni 2015 (2)
  • Mei 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (2)
  • Januari 2015 (2)
  • November 2014 (3)
  • Oktober 2014 (7)
  • September 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (6)
  • Januari 2014 (10)
  • Desember 2013 (7)
  • November 2013 (3)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (6)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (2)
  • Juni 2013 (9)
  • Mei 2013 (5)
  • April 2013 (8)
  • Maret 2013 (19)
  • Februari 2013 (5)
  • Januari 2013 (3)
  • Desember 2012 (3)
  • November 2012 (3)

Created with by ThemeXpose