waiting my saviour

by - November 02, 2021


bangun tidur, mencuci piring, membuat teh, menyiapkan sarapan, beres-beres rumah, belanja sayur, masak, menyiapkan makan siang dan makan malam. menonton tv, browing, tidur siang.. serba-serbi kehidupan ibu rumahtangga yang saya jalani.

berbeda sekali dengan kehidupan saya dulu sebelum resign, ingin bangun siang menunggu hari minggu.. ingin tidur siang harus menunggu hari minggu. pikiran tidak pernah lepas dari yang namanya target produksi, kekurangan material yang harus di stock-opname sebelum closing rls, apakah di acc atau tidak, bagaimana cara mengajukan kk tanpa ada keributan, berapa lama terima barang dari vendor. komplenan dari produksi, memikirkan anak buah yang mengeluh, gudang yang selalu berantakan, overtime yang melelahkan. hari minggu yang terasa begitu singkat menjelma menjadi senin yang tiba-tiba di depan mata. 

rasa menungguku sekarang hanya menanti tiap minggu pagi untuk membuka aplikasi kehamilan, sudah berapa minggu usia kandungan saya. ada perkembangan apa janin di dalam perut saya setiap minggunya. menungu suami pulang sebulan (lebih) tiap pulang kampung, baru bisa saya keluar untuk jalan-jalan. 

terasa sepi? iya.

apalagi ketika suami belum pulang, sangat sepi.. kemudian kehidupan saya sekarang banyak di habiskan untuk melihat untuk gadget, scrolling status whatsapp. bagaimana keadaan anak buah saya sekarang pasca di tinggalkan saya sebagai leader? apakah mereka marah, kecewa karena sudah saya tinggalkan? kenapa tidak ada satupun yang menanyakan kabar saya? apakah mereka tidak ada sama sekali pikiran sayang terharap saya dan tidak begitu pentingnya saya dimata mereka sekarang pasca bersama selama 2 tahun? terbesit semua pemikiran negatif.. i just feel so far away from them.. but i know, i’m not perfect either.. but i can’t so easily throw away this guilt. i do love them.

satu dua orang saya coba untuk ajak chatting, yang ternyata tidak seburuk yang saya pikir.. mereka memahami keadaan saya, yang mungkin sudah jalannya seperti ini.. namun yang lainnya entahlah. jujur saya rindu ingin disapa mereka sebagai bentuk kepedulian mereka yang sudah saya temani 1/2tahun.. hanya menanyakan kabar saya saja sudah tak anggap lebih dari cukup. tidak lebih.. i miss them.. :(

mungkin pikiran negatif ini hanya terbesit ketika saya merasa kesepian saja. memang saya sangat butuh self healing dan stressfree namun pasti akan ada selalu kerinduan akan "aktualisasi diri" di lingkungan sosial.. insyaallah ketika anak saya lahir semua kekosongan hati saya pasca meninggalkan keramaian di lingkungan kerja akan terobati.. just waiting my saviour, then..



You May Also Like

0 comments