pelajaran hidup di usia 25 tahun

by - Januari 01, 2019

selamat tahun baru! setiap tahun baru pasti saya punya mixed feeling. karena tanggal 5 januari saya berulang tahun. saya menulis ini ketika usia saya masih 25 tahun hmm menjelang 26 tahun kurang 4 hari hehe, seperempat abad lebih yang saya harapkan bisa memberikan kesimpulan bijak yang saya dapat selama saya hidup berikut ini :

1. Takdir itu pasti, namun Nasib adalah pilihan
dari dulu saya selalu di hadapkan dengan pilihan, yah memang hidup adalah pilihan. dan saya pilih NO, NO dan NO.. yang paling sulit dari kata "NO" tersebut adalah penyesalan, apakah saya salah mengambil keputusan? dan kenapa saya merasa bodoh karena tidak memikir lebih jauh lagi untuk mengatakan "YES" dan lain sebagainya. dan saya sadar banyak hal yang saya peroleh dari kata "NO" tersebut, banyak sekali pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan. jika saya di dapati pilihan untuk memutar waktu dan mengambil keputusan lagi di masa lalu, saya tidak akan mau menukarnya dan lebih memilih menjalani kehidupan saya yang sekarang. entah bagaimana pahit manisnya keputusan tersebut membuat saya menjadi pribadi yang sekarang. meskipun saya belum bisa meraih apa yang benar-benar saya inginkan, saya memahami apapun yang saya sesalkan. saya menangis, saya bersedih, tapi saya senang melakukan itu semua karena saya membiarkan hati saya untuk merasakan apapun yang saya rasakan pada saat itu juga. karena intinya, kata "NO" membuat saya melihat keindahan yang tidak bisa saya ketahui kalau saya mengatakan "YES".. 2019 no more regret.

2. sosial media bukanlah kehidupan nyata
saya sadar, saya banyak sekali menghabiskan waktu untuk merasa iri dengan kehidupan orang lain melalui sosial media, banyak yang berhasil mempunyai pekerjaan tetap, traveling di tempat yang jauh, berhasil menikah muda dan membangun keluarga yang keliatannya bahagia, banyak yang sudah mempunyai anak yang lucu-lucu bahkan ketika saya scrolling facebook banyak foto bayi dan balita terpajang di sepanjang feed. tapi semua yang tampak bahagia itu bukanlah kehidupan nyata. saya menyadari ketika ada salah satu teman saya yang nampak bahagia di sosmed justru menginbox dan menanyakan lowongan pekerjaan karena ekonominya benar-benar terpuruk, saya bekunjung ke salah satu teman lainnya yang rumah tangganya terlihat bahagia di sosmed seketika ternyata tak terlihat seindah apa yang saya bayangkan. saya sadar, kehidupan saya yang justru jauh lebih beruntung. saya tidak akan mengatakan lebih baik, tapi saya lebih beruntung. dan ternyata saya banyak menghabiskan waktu untuk merasa insecure pada hal-hal yang sebenarnya tak nyata. sepertinya saya memang harus berhenti membandingkan kehidupan saya dengan orang lain. karena itu benar-benar tak sehat.

3. Sendiri tak selalu berarti kesepian
tahun 2017 saya traveling Jakarta - Bogor ke 8 objek wisata dalam waktu 3 hari!!! sapa siapa? sendirian dong hehehe dan itu pengalaman berharga yang tak terlupakan. traveling sendiri tidak membuat saya merasa menyedihkan dan terkucilkan di tempat umum. bahkan saya merasa begitu bebas. mengandalkan transportasi kereta, commuterline, ojek online dan jalan kaki hihi yang menyebalkan hanyalah ketika pengin foto tapi gak ada yang fotoin, harus kenalan dulu sama orang lewat atau ngandelin timer camera. tapi it's okay. saya punya banyak sekali fotonya, belum sempat saya bahas sih trip tersebut di blog. hmmm nanti deh :) dan apa yang saya dapat ketika traveling sendiri? tentunya traveling itu bukan hanya pergi ke tempat bagus untuk foto-foto, namun dengan sendirian lebih mengerti dan memahami lingkungan, berkenalan dengan orang baru dan menemukan kisah baru dari berbagai ragam pengalaman yang saya dapat di sepanjang perjalanan. itulah seninya.

4. punya sedikit teman tak masalah
tahun kemarin alumni SMP mengadakan reuni, dan saya di undang oleh sepupu yang kebetulan sebagai panitianya. dengan tegas saya menolak hadir karena malas. kemudian sepupu saya langsung bilang "kamu dari dulu selalu begitu tak pernah berubah, lebih suka menyendiri dari pada kumpul sama teman. kenapa sih beteman aja musti pilah pilih gak mau kumpul sama si ini dan itu.."
dan saya tidak menyesal karena tidak hadir. saya tidak pilih-pilih teman, hanya saja lebih merasa bahagia mempunyai sedikit teman yang benar-benar menyayangi saya, mengerti privasi saya yang membuat saya merasa bebas untuk menjadi diri sendiri dari pada berkumpul dengan banyak orang yang justru tidak memprioritaskan kehadiran saya, punya genk kumpulnya sendiri dan punya agendanya sendiri. saya tidak tahan berada di lingkungan yang mengaku mengenal saya tapi membuat saya merasa seperti orang asing. i just wanna live with the way i am, i'm not people pleaser

5. si Doi tidak menyukaiku, it's okay
dulu saya merasa insecure dan minder kalau Pria yang saya taksir tidak merespon perhatian saya dsb. saya belajar bahwa perasaan bukanlah sesuatu yang bisa di paksakan, jika Dia tidak membalas rasa perhatian yang saya berikan ya it's okay.. bukan berarti ada yang salah salam diri saya, hanya saja He's not the One and We're aren't mean to be.. dan saya juga belajar bahwa menolak rasa cinta dari orang lain karena memandang fisiknya juga bukanlah hal yang salah, kita manusia dan setiap manusia punya ketertarikan tersendiri terhadap lawan jenis. itu sudah menjadi hal yang alami. selain kepribadian dan passion, kita punya standar ketertarikan dari karakteristik emosi yang alami ingin punya pasangan seperti apa. punya gesture seperti apa, jadi menolak karena penampilan, ataupun di tolak karena penampilan bukan berarti kita tidak punya kepribadian yang baik. dan tetap saja penampilan juga bukan 100% faktor penentu berhasilnya sebuah hubungan, namun masih memegang peran.

6. kebahagiaan adalah tanggung jawab dan pilihan sendiri
kebahagiaan bukan hanya berkutat masalah materi, percintaan dan keluarga. tapi kebahagiaan batin dari lingkungan dan pertemanan yang sehat juga penting. 3 tahun lamanya saya bekerja di kantor yang dulu sebelum resign. pergaulan saya tidak jauh teman-teman kerja yang toxic dan mantan boss saya juga suka ngoprek-oprek privasi, suka kepo, ikut campur urusan yang sebenernya bukan hak dia untuk mengatur dan mengomentari. saya sadar di lingkungan tersebut, tidak akan membuat saya menjadi pribadi yang berkembang. malah seperti terkurung dan terkotak-kotakan. she's let me down enough and take so much strengt to leave and i'm so grateful i finally did! lepas dari situ, kelamaan saya menghapus semua kontak dan memblokir mereka semua, saya tidak mau apapun lagi. saya merasa ini hidup saya, saya punya hak untuk berteman dengan siapa, saya punya hak untuk merasa bebas bahagia dan lepas dari semua lingkungan negatif yang tak sehat. saya punya hak untuk membatasi dengan siapa saya berteman. dan saya punya hak untuk memiliki mental yang sehat dan menjauh dari drama!

7. Saat gagal seleksi kerja, barangkali memang pantas di tolak
sejak saya resign dari kantor yang dulu, saya banyak sekali mengirim lamaran kerja dan sebagian di panggil untuk test dan interview namun tak mendapatkan feedback sama sekali. bisa saja memang saya pantas di tolak karena latar belakang pendidikan, pengalaman, kemampuan bidang, usia, kepribadian dan penampilan saya tidak sesuai dengan posisi yang ada. dan itu tidak membuat saya patah semangat karena memang itu yang terbaik, mungkin Allah akan menempatkan saya yang lebih baik. yah.. namanya belum rejeki kan, mau gimana lagi.. tinggal cari lagi. move on, period!

8. tidak semua rencana bisa tercapai
saya dari dulu punya rencana kalau saya ini akan menikah di usia 24 tahun, dan di usia 25 sudah punya pekerjaan tetap dan kondisi keuangan yang stabil. but here i am, belum menikah, belum punya calon suami, dan masih belum tahu hidup saya kedepan mau ngapain. saya hanya berusaha menjalankan sebaik mungkin dan menjadi pribadi terbaik dari versi saya sebelumnya, dan saya merasa itupun belum cukup karena proses mencari dan mengembangkan pribadi diri memang tidak akan pernah selesai. and it's okay.. saya hanya akan terus berharap dan berdoa yang terbaik. insyaallah...

You May Also Like

0 comments