LOSER.. part #1

by - Oktober 15, 2014

26 April 2010
Dari judulnya saja sudah bisa di tebak pada kali ini saya akan bercerita tentang apa hehe yup, setiap orang punya jiwa pecundangnya masing masing. Terutama saya, mungkin dari semua yang saya alami tidak begitu berat dari pada banyak orang lainnya yang jauh lebih bisa berjiwa besar dan bangkit dari kegagalan..
But now, I just wanna share my unimportant experience about what I’ve been trough..
Banyak orang yang bilang hidup seseorang itu akan di mulai kalau dia sudah dalam proses mencari jati dirinya dan lulus dari sekolah. Ketika saya masih sekolah, saya pikir ujian nasional adalah hal yang terberat dari semua hal yang akan dihadapi dalam hidup ini.. lulus adalah satu satunya harapan, dan moment yang membahagiakan. Saya pikir bisa cari kerja dengan mudah, mendapatkan uang banyak untuk beli ini itu yang saya mau, bisa ngasih sama orang tua, bisa terus merasa senang karena pikiran saya yang bisa terbebas dari stress karena hari hari saya banyak di habiskan hanya untuk menuntut ilmu di bangku sekolah..
Tapi.. ternyata saya salah.
17 tahun, tahun 2010 saya lulus SMK.. semua teman teman saya mulai banyak yang membicarakan dan merancang masa depan mereka, ada yang berniat bekerja di luar kota, ada juga yang melanjutkan kuliah dengan bangganya.. Saya sendiri masih bingung pada saat itu, lalu saya mengutarakan ke orang tua bahwa saya ingin kuliah. Mulai beberapa minggu kemudian saya mencari info dan datang ke kampus yang saya ingin daftar. Tapi begitu saya melihat biaya pendidikan yang harus orang tua saya bayar.. dengan berat hati saya langsung mengurungkan niat, dan berniat untuk mencari pekerjaan saja..

tiba saatnya saya melihat ada lowongan pekerjaan untuk menjadi karyawan di sekolah (SMK) untuk menjadi staf IT dan operator, dan saya ingin sekali bisa di terima karena saya pikir pekerjaan itu cocok buat saya dan sesuai dengan bidang yang saya sukai di sekolah.
Wawancara, tes IT semua berhasil saya lewati.. Tapi ada satu yang menghancurkan semangat saya dari awal, yaitu ketika kepala sekolah memberitahukan tentang gaji saya yang hanya di kasih seberapa. Mungkin Cuma habis buat ongkos saja dari rumah..

Tentu saja saya di anggap karyawan honorer, yang bersedia mengabdi sekian lama dan rela di gaji sangat sedikit. Seperti calon PNS gitu..
Saya begitu bodoh atau polos pada saat itu belum tau tentang dunia kerja semacam itu, saya kira akan di gaji besar di samakan seperti guru dll ya ampun… khayal khayal remaja 17tahun yang belum tahu apa apa tentang dunia kerja.
pada saat itu saya malu sekali sama diri sendiri..
Keluar dari ruang wawancara rasanya hati saya di tampar sekeras kerasanya sambil menahan tangis..

Saya malu sama sepupu saya, dia seumuran saya dan seangkatan walaupun beda sekolah.. dia sudah di terima pekerjaan di luar kota dengan gaji yang cukup besar.. dia juga punya pintar dan punya kepribadian yang enerjik berani merantau sendirian.
Saya malu sama mama saya, gimana caranya saya cerita ketika pulang nanti ketika tahu pekerjaan saya hanya di gaji berapa ratus ribu yang Cuma habis buat ongkos.. sedangkan sepupu saya sudah sukses di kota orang..

Akhirnya saya keluar dan duduk menyendiri sambil SMS ke salah satu sahabat saya “iyom”, sebenarnya saya ngetik SMS juga sambil meneteskan air mata betapa cengengnya saya dulu.. saya ceritakan dari awal sampai akhir.. dan saya pikir seperti menjebak diri sendiri dengan berniat bekerja di sekolah.. Tapi sahabat saya terus mendukung saya dan menyuruh saya untuk bersabar. Sahabat saya juga menyuruh jangan berhenti menyerah begitu saja dan menyuruh saya untuk mencoba menjalani pekerjaan itu dengan ikhlas.. yah, itung itung buat belajar dan pengalaman. Dan sahabat saya juga menyuruh saya untuk jangan lepas berdoa supaya di kasih yang terbaik sama Allah..
Kalau hati saya di ibaratkan gunungan es, mendengar kata kata itu hati saya langsung mencair menjadi lautan :p

Akhirnya saya mulai menerima pekerjaan itu dengan ikhlas, tapi tentu saja bukan tanpa cobaan..
Mama saya mulai menanyakan pekerjaan saya, dan nada bicaranya seperti meremehkan. Iya lah? Logikanya kalau seseorang bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik kenapa harus menghabiskan waktu  dengan hal hal yang sia sia. Iya kan?
Saya juga tidak menyalahkan sikap mama karena beliau memang benar, saya mulai di suruh mengundurkan diri dari pekerjaan dan bekerja di luar kota seperti sepupu saya. Mama juga bilang apa yang saya lakukan juga untuk mengejar masa depan saya sendiri. Mama gak akan minta uang yang saya hasilkan dari kerja, tapi mama pengen saya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Di saat itulah saya benar benar merasa menjadi pecundang.. dan benar benar merasa seperti orang yang tak berguna.. apa lagi terus terusan di bandingkan sama sepupu saya yang jauh punya banyak keberanian, masih muda seumuran saya tapi berani mengambil resiko merantai di kota orang sendirian..

3 bulan berlalu.. saya banyak menikmati pekerjaan saya, walaupun gajinya sangat sedikit tapi saya disitu senang, banyak mengenal orang dari berbagai profesi lainnya yang sudah seperti keluarga sendiri.. Tapi kadang juga saya bosan sekali kalau tidak ada pekerjaan sama sekali..
Akhirnya saya keluar dari pekerjaan itu yang hanya bisa bertahan 3 bulan. Saya mulai pergi ke BKK dan mendaftarkan diri untuk bekerja di luar kota.. saya mulai yakin dan mantap dengan pilihan saya. Terutama dengan dorongan mama.. saya tidak merasa sakit hati sama sekali telah banyak di bandingkan dengan sepupu saya yang lebih dari segalanya di banding saya, karena saya sadar walaupun saya sering sebel dan selalu merasa menjadi orang yang tak berguna di bandingkan dia. Itu semua semata mata juga untuk memotivasi saya untuk menjadi orang yang lebih baik..

Selang beberapa hari setelah saya mendaftar bekerja di luar kota.. mama juga sudah mulai overprotective nanti saya merantau sama siapa, kerjanya sama siapa.. jika saya kerja disana siapa yang jagain dsb.. Saya tidak tau pasti kenapa mama jadi berubah pikiran kasihan sama saya jika bekerja sendirian di luar kota.. Yang jelas, setelah kejadian itu saya tidak di perbolehkan dan langsung mengurungkan niat saya untuk bekerja di luar kota.
Sampai pada Akhirnya mama menyuruh saya untuk melanjukan kuliah saja, karena mungkin mama saya belum tega melepas saya kerja jauh sendirian. Padahal mood saya pada saat itu sudah turun banget untuk kuliah sejak tahu mama gak punya cukup biaya..
Alhasil saya pun akhirnya mendaftarkan diri di salah satu perguruan tinggi swasta yang masih buka pendaftaran dan memilih jurusan yang saya inginkan.. sampai tahun 2013 saya lulus dengan gelar Diploma 3!

Everything Happens for A Reason..
Semua yang terjadi di dunia ini pasti punya alas an tersendiri, semua kesulitan yang terjadi di dunia ini pasti ada hikmah. Begitulah yang saya sadari ketika beberapa hari atau beberapa minggu pada saat awal saya menjajaki bangku kuliah..
Allah mentakdirkan saya untuk bekerja selama 3 bulan di sekolah, mungkin itu rencana indah Allah yang sudah di susun untuk saya agar membuat waktu 3 bulan saya setelah lulus SMK menjadi BERMANFAAT...
Cuma Allah yang bisa membolak balikan hati manusia, seperti hati mama juga hati saya yang di bolak balik. Awal lulus sekolah saya ingin sekali kuliah, tapi gagal karena mama saya tidak cukup yakin bisa memenuhi biayanya.. akhirnya keinginan kuliah pupus sudah dan saya bekerja seadanya, tapi mama saya menyuruh untuk mencari pekerjaan yang lebih baik yang pada akhirnya saya disuruh untuk kuliah saja..
 Mungkin memang sudah jalannya, sudah takdirnya saya mengenyam pendidikan lebih tinggi.. tapi Allah membuat jalannya berliku supaya lebih indah dan menyadarkan saya agar selalu bersyukur..
Maaf kan saya ya Allah kalau jika sudah terlalu banyak mengeluh :)
Me and my mom

You May Also Like

0 comments